Senin, 03 September 2012

Menjawab Paradoks Pendidikan Indonesia




Di tengah “kegembiraan” kenaikkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sesuai amanah Undang-Undang Dasar 1945, rasanya tidak salah kiranya kita mengingat sejenak, terutama sekali bagi pemerintah, sebuah tantangan besar yang ada dalam batang tubuh dunia pendidikan Indonesia itu sendiri yang selalu kita bawa-bawa, yaitu paradoks atau ironi pendidikan.
Ini adalah tantangan terberat pendidikan saat ini. Paradoksal itu kurang lebih digambarkan oleh beberapa premis tidak linear berikut, semakin lama  masa bersekolah seorang anak, ternyata semakin rendah tingkat  kemandiriannya (BPS, 2003). Dan semakin lama masa bersekolah putra-putra Indonesia, tidak berkorelasi positif dengan kenaikkan pendapatan perkapita rata-rata penduduk Indonesia (UNESCO-OECD). Dan terakhir adalah, jumlah pengangguran terdidik yang tidak menunjukkan trend menurun, bahkan cenderung terus bertambah dari tahun ke tahun. 

Sebuah data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) data sakernas 2003, yang menyigi bagaimana korelasi antara variable status pekerjaan dan tingkat pendidikan, terlihat dengan jelas bahwa mayoritas pekerja lulusan perguruan tinggi kita bekerja menjadi buruh/karyawan/pekerja yang dibayar, yaitu 83,18 per sen. Kecil sekali yang mencoba mengambil resiko membuka usaha sendiri dan mempekerjakan orang lain. Justru Pekerja tidak lulus SD, 14, 98 persen diantara mereka lebih mampu untuk mandiri dan mampu mempekerjakan orang lain. Sementara itu yang lulus SD, 13,53 persen berani mengambil resiko dan mempekerjakan orang lain.

Sebuah riset dan kajian yang dilakukan oleh UNESCO dan OECD secara longitudinal/time series (mulai dari tahun 1960 sampai 2000, selama kurun waktu 40 tahun) juga memperlihatkan bagaimana korelasi positif  lama bersekolah dan kenaikan rata-rata pendaptan perkapita/kesejahteraan tidak terjadi di Indonesia. Mulai dari tahun 1960an dari rata-rata lama bersekolah masyarakat Indonesia waktu itu sekitar 1,5 tahun, di mana hampir 90 persen dari penduduk kita adalah buta huruf, sampai  tahun 2000 dengan rata-rata lama bersekolah kita sudah mencapai 7 tahun lebih pendapatan perkapita kita tidak naik sesuai ekspektasi seperti dicapai oleh Thailand, Malaysia. Selama 40 tahun kita mendidik anak-anak bangsa, mulai dari 70 dolar pada tahun 60an, pada 2000 kita hanya sanggup pada pendapatan perkapita 1300 dolar. 

Perangkap pertumbuhan ekonomi yang rendah dan ketersedian lapangan pekerjaan yang terbatas, serta orientasi pekerjaan lulusan lembaga pendidikan untuk menjadi karyawan/professional, menimbulkan masalah lain yang juga relatif berat: pengangguran kalangan terdidik yang dari tahun ke tahun trendnya  terus  meningkat. Sebagian besarnya disumbangkan oleh lulusan perguruan tinggi kita. Pada tahun 2004 pengangguran terdidik tingkat sarjana/diploma berjumlah 348 ribu orang. Jumlah ini dari tahun ke tahun terus merangka naik. Terakhir tahun 2007, pengangguran terdidik dari perguruan tinggi mencapai angka 409 ribu orang. Memang banyak variable dan factor yang mempengaruhi pengangguran kalangan terdidik ini, tapi diatas segalanya ini adalah sebuah pertanda bahwa ada  masalah yang terjadi di dunia pendidikan tinggi di Indonesia pada mutu dan relevansi.

Apa yang telah dilakukan? Berdasarkan diagnosa para birokrat pendidikan tentu bersama beberapa pakar pendidikan yang lain telah melahirkan berbagai terapi. misalnya Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengadopsi dan mempopulerkan pendekatan link and match (kesesuaian dan keterpaduan). Prof. Malik Fadjar dengan Broad Base Education yang mensyaratkan perlunya sebuah pendidikan life skill. Tidak hanya diberikan pengetahuan, tapi peserta didik juga diberikan skill. Dan pendidikan harus berbasiskan kompetensi. Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA mencanangkan tiga pilar pendidikan sekaligus yaitu akses, mutu dan relevansi pendidikan. Tapi persoalannya, hingga saat ini kecanggihan terapi itu, tidak cukup mampu menyembuhkan penyakit paradoksal pendidikan itu.

Dunia Kerja yang Hiperdinamis
Sementara kita berfikir untuk menjawab persoalan itu, dunia kerja terus berlari kencang sepertinya tidak bisa diikuti oleh kecepatan adaptasi pendidikan. Dalam era post industrial ini,  terjadi perubahan kecendrungan dalam dunia kerja dari skala produksi menjadi customized product dan pelayanan. Perusahan tidak lagi memproduksi produknya dalam jumlah besar. Kuantitas telah digantikan dengan kualitas sebagai focus kegiatan ekonomi. Karenanya organisasi perusahan tidak lagi mempertahankan mode fordian dalam dunia perusahaan mereka yang mempekerjakan banyak orang, mulai dari frontline worker sampai struktur atas. Bahkan layers piramida dalam dunia kerja yang juga menjadi refleksi Perguruan tinggi itu sudah tidak begitu dominan lagi. Yang berkembang adalah SMEs (Small and Medium Enterprises), small-scale production, medium manager mengkordinaskan team work, people tidak bekerja berdasarkan spesialist, tapi terjadi integrasi dalam team work orang-orang dengan banyak talenta, keahlian dan pengalaman.

Dalam dunia berbasis pengetahuan terjadi mobilitas kerja. tidak ada banyak lagi orang yang satu karir untuk selamanya (one career in a lifetime). Orang banyak bekerja saling silang, tidak tergantung latar belakang kualifikasi akademiknya. Karena itu sumber daya manusia yang bisa survive adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk terus belajar (capacity for long life learning).

Karena itu ekpektasi dunia kerja terhadap individu yang akan bekerja mengalami perubahan. Individu yang dicari adalah mampu berkomunikasi, adaptif terhadap perubahan, mampu bekerja dalam tim dan memiliki fleksbilitas dalam human relation, selalu siap untuk memecahkan masalah, mampu melakukan analisa dan mengkonsepsi, bertanggungjawab, punya kemampuan refleksi dan manajemen diri, kreatif, inovatif dan kritis, selalu mau belajar sesuatu hal yang baru di manapun, kapanpun, termasuk yang diluar bidang spesialis dan bahkan diluar budayanya. Ekspektasi dunia kerja ini adalah sebetulnya ekivalen dengan nilai-nilai yang ada dalam pendidikan kecapakan hidup (life skill).

Paradigma active learning dan entrepreneurship

Ini adalah persoalan teramat berat yang harus kita fikirkan. Menurut saya ada dua hal yang perlu kita lakukan. Pertama pendidikan memang harus relevan dan bermutu, tapi jangan mengabdi untuk satu kepentingan saja, apalagi hanya untuk mencari lapangan pekerjaan. Paradigma dan praksis pendidikan yang harus diterapkan adalah active learning. Kedua, harus terjadi perubahan orientasi lulusan kita, dari job seeker kepada orientasi job creator.

Dalam paradigma active learning ini peserta didik dianggap sebagai active agent atau chief agent bukan sebagai penerima pasif  seperti dalam paradigma pengajaran teaching atau disebut Paulo Friere sebagai pendidikan model bank/model deposito.  Dalam  active learning, guru dan dosen tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang memiliki paramount authority dan tidak lagi memiliki kontrol penuh atas mahasiswa-mahasiwanya.

Dalam active learning peserta didik dipandang sebagai penemu dan konstruktor pengetahuan. Tidak ada lagi dalam praksis pendidikan, belajar sekedar transmisi atau transfer pengetahuan. Mereka lebih aktif, lebih canggih dalam menggunakan segala sumber belajar dan mereka melakukan collaborative learning.  Apa yang diajarkan oleh pendidik tidak lagi dirasa cukup menghadapi ledakan pengetahuan dan kesepatan perubahan dalam dunia nyata.

Active learning membuat peserta didik menjadi pembelajar yang siap memiliki kapasitas untuk manusia pembelajar sepanjang hayat (long life learning). Lembaga pendidikan, bagi peserta didik active learning adalah dalam rangka membangun/memperkuat dirinya menjadi manusia dengan kapasitas/kesadaran tinggi akan longlife learning saja lagi. Bagi mereka ijazah disadari tidak akan memberikan garansi apapun bagi sebuah lifelong qualification of competency.


Tidak cukup dengan hanya itu, secara sengaja dan terencana, kita sudah harus memikirkan bagaimana mengembangkan lulusan pendidikan, terutama dari perguruan tinggi dengan orientasi entrepreneurship/kewirausahaan. Saya setuju dengan premis Dr. Ir. Ciputra yang mengatakan bahwa yang paling siap dan paling mudah untuk dididik dan dilatih kecakapan wirausaha adalah mereka yang sekarang berada di bangku sekolah. Kita harus melahirkan lulusan yang memiliki pola berfikir/cita-cita untuk menciptakan lapangan pekerjaan (job creator), bukan mencari (job seeker). Sebagian dari lulusan perguruan tinggi harus diarahkan menjadi manusia yang berani mengambil dan mengolah resiko itu untuk terjun dalam dunia kewirausahaan. Ini adalah persoalan pendidikan karakter dan jiwa kewirausahaan. Dalam era yang berbasiskan ilmu pengetahuan ini, sumber daya manusia berjiwa kewirausahaan adalah salah satu penanda terpentingnya

Dalam proses membudayakan wirausaha melalui lembaga pendidikan tinggi sebetulnya nilai mendasar apa yang perlu diinternalisasi yang menjadi pembeda bagi seorang wirausahawan. Ada tiga watak penting  yang menjadi penanda seorang wirausaha yaitu individu yang mampu menciptakan kesempatan (opportunity creator), mampu menciptakan hal-hal atau ide-ide baru yang orisinal (innovator) dan terakhir harus berani mengambil resiko dan mampu mengitungnya (calculated risk taking).

Dari sisi pengetahuanya, apa yang dipelajari dalam kewirausahaan diantaranya yang penting adalah riset pasar, solusi masalah, dan konsepnya, rancangan keuangan, biaya kebutuhan usaha lengkap dengan return of investmenya.

Ide ini rasanya sangat realistic untuk diaplikasikan di perguruan tinggi yang notabene merupakan pusat keunggulan dengan lingkungan yang diselimuti ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan invensi. Tidak sedikit ilmuwan yang ada dalam suatu lingkungan perguruan tinggi adalah individu yang dipercaya oleh perusahaan-perusahan besar dalam pembenahan dan pengembangan internal perusahan  tersebut (dalam tugas R&D Engineering innovation). Selain itu, dari berbagai ajang kreatifitas yang diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun pihak swasta, partisipan dari kalangan perguruan tinggi selalu menunjukkan hasil yang layak dijual dan dikembangkan lebih lanjut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar