Senin, 03 September 2012

Melihat Knowledge Economy Index Indonesia Belajar dari Nordic Countries



Saat ini dunia memasuki era knowledg- base economy, dimana pengetahuan menjadi the main engine/key driver yang menggerakkan produktivitas, competitiveness, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu bangsa. Keunggulan komparatif, dimana sumber daya alam atau dalam bahasa Porter faktor endowment termasuk di dalamnya geograpy, ecology sebagai faktor penggerak ekonomi, kini telah digantikan oleh keunggulan kompetitif yang berbasiskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk meningkatkan totalitas faktor-faktor produksi dan untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, sekarang ilmu pengetahuan, kreativitas dan inovasi menjadi penggerak/modal utamanya, ia bukan lagi sebagai eksternal faktor.


Dimanakah posisi relatif Indonesia saat ini dalam konteks knowledge base economy? Kenapa posisi Indonesia tidak mengalami kemajuan dari masa ke masa? apa yang bisa dipelajari dari negara-negara yang sudah membuktikan korelasi positif antara knowledge dan pembangunan ekonomi, terutama dari negara Nordic atau Skandinavia (the world’s most advanced knowledge economy) dan Juga beberapa negara Asia seperti Taiwan (sekarang menjadi top Asia), Singapura dan Malaysia?

World Bank telah mengembangkan suatu program Knowledge Assessment Methodology (KAM), dimana salah satu produknya adalah The Knowledge Economy Index (KEI) sebuah representatif indeks agregat yang menggambarkan posisi dan kesiapan suatu negara memasuki knowledge economy era. Indeks ini mengagregasi empat pilar knowledge ekonomi yaitu Economic Incentive and Institutional Regime (EIR), Education and Traininig, Innovation and Technological Adoption, dan terakhir, Information and Communication Technologies (ICT) Infrastructure.

Ada 80 variabel lengkap yang digunakan oleh World Bank untuk mengukur performa suatu negara dalam konteks knowledge economy ini (disebut custom scorcard), namun yang umumnya dipakai untuk melihat posisi relatif suatu negara adalah 14 variabel mendasar dari empat pilar besar di atas (disebut basic scorcard). Seluruh variabel dan hasil penilaian bisa diakses secara online melalui website World Bank/KAM. Pembaca bisa mengkomparasi suatu negara dengan negara lain dan menampilkan performa knowledge economy index negaranya dalam bentuk bar chart, diamond chart dan spider chart.

14 variabe dari empat pilar knowledge economy itu  2 variabel diantaranya merupakan performance variabel dan 12 lainnya adalah knowledge variabels. Performance variabel itu adalah nilai average annual GDP Growth dan nilai Human Development Index (HDI) suatu negara. GDP merupakan salah satu gambaran yang memperlihatkan nilai produktivitas total dari suatu negara dalam menghasilkan nilai tambah dari seluruh sektor dan faktor produksi yang dimilikinya. Gambaran GDP disandingkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau HDI suatu negara yang direpresentasikan oleh tiga indeks komposit, yaitu life expectancy at birth, knowledge and Education, Standar of Living.

12 variabel lainnya terbagi dalam empat pilar. pertama pilar Economic Incentive and Institutional Regime terdiri tiga variabel yaitu tariff and non-tariff bariers, regulatory quality, dan rule of law. kedua, pilar Education and Human Resources terdiri dari tiga variabel yaitu adult literacy rate (%age 15 and above), secondary enrolment, dan tertiary enrolment. ketiga, pilar Innovation and technological adoption, terdiri dari tiga pilar yaitu Research in R&D per Million population, Patent applications granted by the UPSTO per million population, Scientific and technical journal permillion populatioan. keempat pilar Information and communication Technologies (ICT) Infrastructure terdiri dari tiga variabel yaitu Telephones per 1,000 persons, computers per 1000 persons, internet users per 1000 persons. Masing-masing variabel memiliki nilai aktual skor dan normalize skor. skor terakhir, normalize skor adalah untuk melihat posisi relatif suatu negara dalam masing-masing variabel dari skala 0-10 dibandingkan dengan negara lain. Nilai sepuluh merupakan top score bagi top performer dan 0 adalah skor terburuk atau terendah.

The knowledge economy frameworks ini sudah teruji sebagai pilar untuk melihat kemajuan pembangunan suatu negara. Investasi yang berkelanjutan di bidang pendidikan dan pelatihan berpengaruh positif terhadap peningkatan penghasilan/GDP per capita suatu bangsa yang sangat terkait dengan kesejahteraan. sebuah penelitian dan kajian yang dilakukan oleh UNESCO dan OECD, Financing Education-Investment and Returns terhadap sejumlah negara OECD dan peserta survey secara longitudinal semenjak tahun 1960-2000, menunjukkan semakin lama masa bersekolah (years of schooling), semakin naik GDP per capitanya. Banyak lagi kajian serupa yang menunjukkan relasi positif bahwa pendidikan/pengetahuan sebagai essential ingredient bagi prestasi pembangunan suatu negara. misalnya kajian Barro (1991), Cohen and Soto (2001), Hanushek dan Kimko (2000).

Sistem Inovasi sebagai keterkaitan lembaga-lembaga, aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang mempengaruhi bagaimana suatu negara acquires, creates, disseminates and use knowledge juga adalah sebagai pilar knowledge economy. Lederman dan Maloney (2003) menggunakan pengujian regresi dengan memakai data panels selama lima tahun antara  1975-2000 terhadap 53 negara menunjukkan bahwa kenaikan satu persen rasio total R dan D terhadap GDP mampu mendongkrak GDP 0.78 persentase basis point. Guellec dan van Pottelsberghe (2001) melakukan kajian investigatif long-term effect dari berbagai variasi R and D terhadap negara anggota OECD semenjak tahun 1980-1998. keduanya menemukan bahwa penelitian memberikan efek yang positif bagi pertumbuhan produktifitas. Adams (1990) menggunakan jumlah academic scientific papers dari berbagai lapangan keilmuwan sebagai proksi, menemukan technical knowledge berkontribusi sangat signifikan bagi pertumbuhan total produksi industri manufaktur Amerika selama kurun waktu 1953-1980.

Sementara itu ICTs merupakan tulang punggung dari knowledge economy karena fungsinya sebagai effective tool untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. produksi dan pemakaian ICTs, berdasarkan berbagai kajian, sangat mempengaruhi total factor produktivity pada aras ekonomi. Karena dengan ICTs akan meningkatkan flow of information dan knowledge yang murah dan efisiens; akan mereduksi ketidakpastian dan biaya transaksi dari partisipan ekonomi; mengatasi hambatan batasan-batasan geographic sehingga terjadi pasar global yang efficient.

Tentu saja, berbagai pilar harus ditopang oleh pilar IER, dimana harus ada insentif bagi penggunaan yang efektif dan kreasi pengetahuan, serta makro ekonomi, sistem kompetisi dan peraturan/perundang-undangan yang well-grounded dan transparan. misalnya seperti ditunjukkan oleh Knack dan Keefer (1995) dan Kauffman et al. (2002-2003), jika hak-hak kekayaan intelektual tidak ditegakkan dan dihargai, maka peneliti dan ilmuwan tidak memiliki insentif  untuk mengkreasi teknologi pengetahuan.

Ada korelasi antara KEI Ranking jika dikelompokkan secara quintil dengan kelompok negara berdasarkan income. Hampir seluruh negara high income, kecuali satu negara yaitu Arab Saudi berada di dalam quintil ke lima dan keempat dari KEI Rangking. Hampir seluruh negara upper midle income berada di kuintil keempat dan ketiga, negara low middle income hampir semuanya berada di quintil kedua dan pertama dan hampir semua negara low income berada di quintil pertama.



KEI Indonesia

Saat ini Indonesia  berdasarkan KEI dan KI Indexes (KAM 2008) berada pada urutan ke 98 dari 134 negara dengan nilai total 3.23. Di Semua pilar, posisi Indonesia relatif tertinggal jauh dibandingkan dengan yang lain. Indonesia hanya memiliki skor 3.36 untuk pilar EIR, 3.32 untuk pilar Innovation, 3.42 untuk pilar education dan 2.82 untuk pilar ICT. Posisi ini masih dibawah rata-rata dunia dengan nilai total 5.92. Demikian juga kalau dilihat per pilarnya, rata-rata dunia untuk EIR sudah 6.17, Innovation 8.01, Pendidikan 4.16 dan ICT 6.34. Kalau digambar dengan spider Chart dan diamond Chart terlihat dengan jelas posisi relatif Indonesia masih berada ditengah-tengah lingkaran kecil belum bergerak keluar membentuk pola lingkar spider dan diamond sempurna. Prestasi ini relatif tidak bergerak semenjak tahun 1995, bahkan pada KEI dan KI Indeks terakhir turun sebanyak dua tingkatan dibandingkan dengan posisi tahun 1995.

Kalau dilihat posisi pencapaian per pilar saat ini dan perubahannya semenjak tahun 1995, maka Indonesia telah melakukan lompatan cukup berarti yaitu 29 lompatan dalam pilar inovasi, akan tetapi masih berada di urutan ke 94. Pada tiga pilar yang lain posisi Indonesia semuanya turun dari posisi awal. Pilar Pendidikan Indonesia turun sebanyak 6 spot berada di peringkat 94. Pada pilar EIR, Indonesia turun sebanyak 14 peringkat, berada di urutan ke 98. Indonesia harus mendapatkan perhatian besar kepada ICT, karena peringkat Indonesia berada di urutan 106 negara, turun sebanyak 11 spot. Khusus untuk yang terakhir ini, Vietnam berhasil naik 18 tingkat menyalip Indonesia berada di peringkat 100 dunia.

Variable
Indonesia
(most recent)

(Group: All)
Indonesia
(1995)

(Group: All)
actual
normalized
actual
normalized
Annual GDP Growth (%), 2002-2006
5.10
5.76
7.10
9.06
Human Development Index, 2005
0.73
3.62
0.66
3.36
Tariff & Nontariff Barriers, 2008
73.00
4.07
45.00
2.20
Regulatory Quality, 2006
-0.26
3.93
0.43
5.93
Rule of Law, 2006
-0.82
2.07
-0.36
3.93
Total Royalty Payments and receipts(US$/pop.) 2006
5.55
4.82
n/a
n/a
Scientific and Technical Journal Articles / Mil. People, 2005
0.93
1.22
0.69
0.86
Patents Granted by USPTO / Mil. People, avg 2002-2006
0.08
3.93
0.04
3.93
Adult Literacy Rate (% age 15 and above), 2007
91.42
4.22
83.70
4.45
Gross Secondary Enrollment Rate, 2006
64.22
2.72
51.48
3.53
Gross Tertiary Enrollment Rate, 2006
16.98
3.33
11.31
3.77
Total Telephones per 1,000 People, 2006
360.00
3.29
18.20
2.64
Computers per 1,000 People, 2005
10.00
1.88
5.10
3.13
Internet Users per 1000 People, 2006
70.00
3.29
0.30
4.71

Sementara beberapa negara lain telah menunjukkan kemajuan luar biasa dan memastikan bahwa mereka dalam track transisi menuju knowledge economy yang benar, bahkan dalam interval waktu 1995-2008, ada yang naik  sampai 20 spot, seperti Mongolia dan China. Sementara yang lain Armenia 18 lompatan, Mauritania 17, Tunisia 15, Madagaskar 15, Angola 15, Lithunia 14, Romania 14 dan seterusnya. Mongolia (ranking 78), The Kyrgiz Republik (ranking 89) sebagai negara low income bahkan berhasil melampaui posisi Indonesia  sebagai negara low middle income beberapa spot.

Di Asia, saat ini, Taiwan menjadi negara terbaik dalam knowledge economy, ranking 17 dunia (melompat tujuh spot) mengalahkan Jepang yang hanya ranking 19 (turun 2 spot). Taiwan highly competitive di pilar ICT dan pilar Inovasi, dua pilar ini berada pada urutan delapan dan sepuluh dunia. Misalnya Scientific and Technical journal persejuta penduduk, Taiwan mampu menyumbangkan 476.95 artikel. Jumlah Patent Taiwan mencapai jumlah yang fantastis yaitu 293.44 nilai aktualnya dan 9.93 normalizednya. Jumlah patent ini mampu mengalahkan seluruh negara nordic/skandinavia dan hanya Amerika saja yang berada diatasnya dengan nilai normalized yang sempurna yaitu 10. Taiwan juga bagus dalam mengembangkan akses pendidikan tinggi terlihat dari Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi dengan nilai aktual 83.58 dan normalized nyaris sempurna yaitu 9.77

Variable
Taiwan, China
(most recent)

(Group: All)
Taiwan, China
(1995)

(Group: All)
actual
normalized
actual
normalized
Annual GDP Growth (%), 2002-2006
4.46
4.82
6.74
8.78
Human Development Index, 2005
n/a
n/a
n/a
n/a
Tariff & Nontariff Barriers, 2008
86.66
9.41
75.20
7.58
Regulatory Quality, 2006
0.94
7.79
0.88
8.14
Rule of Law, 2006
0.77
7.86
0.81
7.71
Total Royalty Payments and receipts(US$/pop.) 2006
n/a
n/a
n/a
n/a
Scientific and Technical Journal Articles / Mil. People, 2005
476.95
8.56
227.85
8.42
Patents Granted by USPTO / Mil. People, avg 2002-2006
293.44
9.93
2.085.40
10.00
Adult Literacy Rate (% age 15 and above), 2007
97.33
6.09
94.42
6.13
Gross Secondary Enrollment Rate, 2006
99.15
7.87
95.66
8.13
Gross Tertiary Enrollment Rate, 2006
83.58
9.77
39.44
8.19
Total Telephones per 1,000 People, 2006
1.660.00
9.64
467.70
8.29
Computers per 1,000 People, 2005
580.00
8.84
98.70
8.17
Internet Users per 1000 People, 2006
640.00
9.29
11.80
8.36

Variabel scientific and Technical journal articles/mil.people Indonesia sebagai salah satu pilar penting inovasi dan technological adoption merupakan variabel terendah nilai normalizednya dari berbagai variabel, yaitu dengan nilai actual 0.93 dan nilai normalized 1.22. Ini mengindikasikan nilai produktivitas ilmuwan dan peneliti indonesia masih rendah dibandingkan dengan ilmuwan dan peneliti dari negara-negara lain. Padahal Indonesia memiliki 7.170 peneliti di seluruh Departemen dan LPND-LPND, ditambah 125 ribu dosen perguruan tinggi. Ini mengingatkan kepada para pengambil kebijakan untuk mengevaluasi dan melakukan kebijakan strategis ilmu pengetahuan dan ICT yang dijalankan selama ini.

Nilai aktual produktivitas ilmuwan Indonesia ini bahkan kalah dibandingkan dengan Bangladesh dengan nilai actual 1.26 per sejuta penduduk, padahal urutan KEInya jauh dibawah Indonesia yaitu 128. Malaysia memiliki 23.97 article per sejuta penduduk dengan nilai normalized 5.11. Singapura yang mengalahkan Denmark, Belanda Norwegia, Amerika, Australia dalam pilar Inovasi mencapai angka 831.22 artikel per sejuta penduduk dengan 9.57 nilai normalizednya. nilai tertinggi, agaknya ditunjukkan oleh Swedia dengan 1.109.48/sejuta penduduk dengan nilai normalizednya 9.93.

Masih dalam pilar inovasi, yaitu patents granted by UPSTO, Indonesia hanya menghasilkan 0.08 patent persejuta penduduk dengan nilai normalized 3.93. Patent ini padahal adalah salah satu indikasi atas terjadinya penciptaan pengetahuan dan teknologi baru dalam suatu negara. Malaysia, memiliki 3.03 patent per sejuta penduduk dengan nilai normalized 7.79, sementara itu Singapura 101.07 per sejuta penduduk dengan nilai normalized 9.21.

Pada pilar Pendidikan, variabel adult literacy sudah mencapai 91.42 dengan nilai normalizes 4.22. akan tetapi angka partisipasi kasar pendidikan menengah dan pendidikan tinggi Indonesia masih rendah, masing-masing yaitu 64.22 dengan nilai normalizednya 2.72 dan 16.98 dengan nilai normalized 3.33.

ICT infrastructure sebagai tulang punggung knowledge economy, Indonesia masih jauh tertinggal. Dari seribu penduduk, pemilik telepon hanya sekitar 360.00 orang. Sementara itu, computer per seribu penduduk hanya 10.00 dan pemakai internet per seribu penduduk hanya 70.00. Merujuk pada nilai NRI dan kita lihat sub-sub indeksnya, walaupun secara rangking masih sangat jauh dibawah dan cenderung terus menurun setiap tahun, Indonesia memiliki kekuatan misalnya di availability of scientist and engineers di rengking 31, extent of staff training di rengkin 31 dsb.

Posisi ini sejalan dengan pengukuran dari lembaga internasional lain yang juga memperlihatkan peranan ilmu pengetahuan sebagai porsi terbesar proxinya. Misalanya Global Competetivenes Indeks yang dirilis oleh World Economic Forum; World Competetiviness Year Book yang diterbitkan oleh International Management Development (IMD) Swiss dan Network Readiness Indeks yang dirilis oleh Global Information Technology Report.

Competitiveness suatu negara ditentukan oleh produktivitas ekonomi negara tersebut dalam menghasilkan nilai tambah per unit dari sumber daya manusia, modal, dan sumber daya alam. GCI menggunakan 12 pilar besar untuk mengukur drivers of productivity/competitiveness suatu negara yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu pertama basic Requirements, kedua Efficiency enhancers dan ketiga Innovation and sophistication factors. Tiga kelompok ini menjadi stages of development. Pertama disebut factor-driven economies, kedua efficiency driven economies, dan ketiga innovation driven economies.

 Pada stage pertama, sebuah negara berkompetisi dengan mengandalkan faktor endowments, primarily unskilled labor dan sumber daya alam. Biasanya tahap pembangunan ini dengan produktivitas yang rendah dan tingkatan upah yang rendah pula. Pada tahap kedua, Indonesia suatu negara mulai mengembangkan suatu produksi yang effisien dan meningkatkan mutu produksi. Pada tahap kedua ini nampak peran besar pilar perguruan tinggi dan pelatihan, pasar barang yang efektif, tenaga kerja yang berfungsi baik, sampai peranan teknologi. Pada tahap ketiga, suata negara mempertahankan pendapatan yang tinggi tergambar dari standar hidup mereka dengan produk baru dan unik. Peranan inovasi dan proses produksi yang sophisticated menjadi penentu dari tahapan ini.

Dalam konteks ini World Economy Forum membagi pergerakan negara-negara kepada empat pergerakan, pertama tahap faktor driven, kedua, tahap transisi menuju tahap efficiency driven, ketiga tahap effeciency driven, dan keempat tahap transisi menuju innovation driven dan kelima tahap innovation driven. Indonesia masih berada pada tahap pertama yaitu factor driven, belum masuk ke tahap transisi, apalagi ke tahap efficiency driven, belum transisi, dan masih jauh dari innovation driven. Indonesia berada dalam rangking 55 dari 132 negara dunia. Artinya Indonesia masih mengandalkan faktor endowment sebagai sebagai basis untuk berkompetisi di kancah global.

Indonesia berada pada urutan ke-51 dari 55 negara dalam World Competitiveness year book tahun 2008 yang dirilis oleh IMD Swiss. (dielaborasi lebih jauh).

Termasuk dalam Global Information Technology Report yang menyigi secara lebih terang dan dipublikasikan setiap tahun bagaimana kesiapan suatu negara dalam penggunaan ICT dalam pembangunan negaranya (disebut Networked Readiness Indexs), Indonesia berada pada rengking 83.  Rengking ini semenjak tahun 2006-2007 mengalami penurunan yang cukup signifikan sebanyak 22 spot dari urutan ke 62 ke 83. Dari tiga variabel penilaian (environment index, Readiness index dan usage index) Indonesia memiliki rangking terendah pada usage index, komponen penilaian yang melihat bagaimana actual usage dari ICT suatu negara pada stakeholder utamanya (pelaku bisnis, pemerintah dan individu) untuk efisiensi dan produktifitas, yaitu 93. Kemauan dan kesiapan pelaku utama untuk menggunaka ICT dalam kehidupan sehari-hari yang diukur melalui Readiness index, Indonesia sudah berada pada ranking 62 dunia, bahkan dua subindeksnya yaitu individual readines dan business readiness sudah berada pada ranking 52 dan 49 dunia. Akan tetapi friendliness of country’s environment terhadap ICT yang coba diukur oleh environment index, Indonesia masih sangat bermasalah pada infrastructure environment dengan ranking 103 dunia. Pemerintah merupakan stakeholder utama dengan readiness paling tidak siap dibandingkan dengan dua yang lain, yaitu rangking 111 dunia. Kondisi ini mengafirmasi nilai pilar ICT indonesia pada KEI seperti telah disebutkan


Belajar dari Nordic Country

Posisi tertinggi, lima besar didominasi oleh negara Skandinavia, Denmark pada urutan pertama dengan nilai 9,58, tempat kedua Swedia dengan nilai 9.52, disusul pada posisi ketiga Finlandia dengan nilai 9.37, Belanda pada tempat ke empat dengan nilai 9.32, kemudian Norwegia pada tingkat ke lima dengan nilai 9.27. Amerika serikat turun sebanyak enam peringkat menjadi urutan ke-9 dengan nilai 9.09. Hampir di seluruh pilar, negara skandinavia memiliki nilai sempurna, terutama pada pilar pendidikan semuanya berada pada posisi 7 besar.

Rank
Country (click on the name to see basic scorecard)
Incomplete data
KEI

KI

Economic
Incentive Regime

Innovation

Education

ICT






1
Missing data
9.58
9.55
9.66
9.57
9.80
9.28
2
+4

9.52
9.63
9.18
9.79
9.40
9.69
3
-1

9.37
9.33
9.47
9.66
9.78
8.56
4

9.32
9.36
9.18
9.48
9.26
9.36
5

9.27
9.27
9.25
9.06
9.60
9.16
6
+4

9.21
9.14
9.42
9.43
9.26
8.74
7
Missing data
9.15
9.03
9.50
9.89
7.69
9.52
8

9.09
9.03
9.28
9.18
8.54
9.38
9
-6

9.08
9.05
9.16
9.45
8.77
8.93
10
+1

9.05
9.17
8.66
8.72
9.64
9.16

Pencapaian knowledge economy indeks ini sejalan dengan tingkatan competitiveness global mereka. Hampir semua lembaga international menempatkan negara-negara skandinavia sebagai negara yang terbaik, misalnya dalam Global Competitiveness Index, World Competitivenes, Human Development Indeks, The Geograpy of Happiness, Networked Readiness Index, International Country Risk Guide, PISA, Global Peace Index, Global Corruption Report dan seterusnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar