Sabtu, 01 September 2012

Melihat Kinerja Penelitian di Indonesia



Galib diketahui bahwa postur atau kinerja riset nasional penelitian di Indonesia belum baik dan berhasil seperti yang diharapkan. Dalam Indikator Knowledge Economic Index (KEI), Indonesia hanya menempati urutan 108 dunia (rilis World Bank 2012); artikel jurnal/sejuta penduduk dan jumlah patent/sejuta penduduk yang tercatat di UPSTO sebagai salah satu indikator KEI, Indonesia hanya mengkontribusikan 0,80 artikel/sejuta penduduk dan 0,08/sejuta penduduk; ESI sebagai gambaran dari produktifitas intelektual dan peneliti, pada kurun 2000-2004, jumlah publikasi dari Singapura, Thailand dan Malaysia masing-masing 3.086, 2.125 dan 700, Indonesia hanya mampu menyumbang 371. Demikian juga WIPO, semenjak 2000 sampai tahun 2005, Indonesia hanya memiliki aplikasi paten rata-rata sebanyak 8,5 aplikasi.



Permasalahannya adalah terletak pada mutu dan relevansi penelitian yang lemah dan diikuti dengan produktifitas ilmuwan Indonesia yang rendah. Apa sebetulnya yang menjadi akar permasalahan dari performa riset/penelitian Indonesia, apakah terkait  public expenditure riset Indonesia yang dianggap relatif kecil atau kompetensi sumber daya manusia peneliti, atau manajemen penelitian nasional?


Defenisi
Undang-Undang RI No. 18 tahun 2002 mendefenisikan Penelitian sebagai kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.[1]

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendefenisikan Penelitian dan Pengembangan sekaligus yaitu kegiatan kreatif yang dilakukan dengan sistematis untuk menambah pengetahuan (stock of knowledge), termasuk pengetahuan tentang manusia, kebudayaan dan masyarakat (knowledge of man, culture and society), dan pemanfaatan pengatahuan ini untuk merancang penerapan baru (to device new applications). Sementara itu kegiatan ilmu pengetahuan dan Teknologi bagi LIPI adalah kegiatan-kegiatan sistematis yang erat kaitannya dengan pengembangan, peningkatan, penyerapan, dan penerapan pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam semua bidang Iptek. Termasuk di dalamnya beberapa kegaitan antara lain penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan ilmiah serta pelayanan jasa iptek.[2]

Menurut kamus Webster, riset adalah hati-hati, sistematis, studi hak paten dan Penyelidikan dalam beberapa bidang Pengetahuan, dikerjakan untuk menemukan atau menetapkan fakta atau prinsip. Sedangkan McGraw Hill mendefinisikan penelitian sebagai scientific investigation aimed at discovering and applying new facts, techniques, and natural laws (penyelidikan ilmiah yang mengarah pada menemukan dan menerapkan fakta baru, teknik, dan hukum alam).

Penelitian itu sendiri menampilkan beragam bentuk sesuai dengan aspek penekanannya. Berdasarkan tujuan penelitian dapat dibagi kepada tiga bagian: a)penelitian untuk menjelaskan fenomena; b)penelitian untuk membuat prediksi;c)penelitian untu mengendalikan sesuatu. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, penelitian dapat dilihat kepada empat bagian:a)penelitian eksploratif;b)penelitian deskriptif; c)penelitian eskperimen;d)penelitian histories. Ada juga yang membaginya menjadi tiga:a)penelitian lapangan; b)penelitian kepustakaan; penelitian laboratorium. Berdasarkan sifat pekerjaan da disiplin ilmu: ada penelitian dasar dan penelitian terapan. Berdasarkan metodologi, dapat dilihat penelitian kuantitatif dan kualitatif. Di perguruan tinggi dikenal ada penelitian dasar, penelitian terapan, dan institusional penelitian.[3]

LIPI membagi penelitian dan pengembangan kepada tiga hal: penelitian dasar, penelitian terapan pengembangan eksperimental. Penelitian dasar adalah kegiatan penelitian teoritis atau eksperimental yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru tentang prinsip-prinsip dasar (the underlying foundations) dari fenomena atau fakta yang teramati, tanpa memikirkan penerapannya. Penelitian terapan merupakan kegiatan investigative yang orisinal yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru. Namun, kegiatan ini diarahkan untuk tujuan praktis tertentu. Sementara itu pengembangan eksperimental adalah kegiatan sistemik dengan menggunakan pengetahaun yang sudah ada, yang diperoleh melalui penelitian atau pengalaman praktis dengan tujuan menghasilkan material baru, produk baru atau alat baru, membangun proses baru atau system baru dan meningkatkan produk, proses atau system yang sudah ada secara substansial.[4]

Indikator Keberhasilan Riset.
Menurut Lynn Grigg (1993) sepanjang dekade penelitian internasional belum ada konsensus mengenai indikator yang disepakati untuk indikator keberhasilan/kinerja suatu penelitian. Kendatipun belum ada platform umum yang disepakati, beberapa lembaga seperti KMNRT telah mengembangkan manual-manual cara mengukur indikator kinerja riset. Indikator-indikator itu terdiri dari indikator masukan, indikator proses, indikator luar dan indikator hasil.  Dalam tulisan ini lebih banyak melihat pada indikator luar dan hasil.

Keberhasilan suatu penelitian dalam indikator masukan dilihat dari faktor kualitas sample (data terkini, time series data), kualitas pakar yang berkaitan dengan data, kualitas dan kuantitas sumber dana, system pendanaan, jumlah SDM dan kepakaran serta pengalaman material, kualitas system informasi. Dari sisi proses, bagaimana penelitian dilakukan dilihat dari efesiensi aktivitas penelitian, individual versus penelitian mutli dan cross-disiplin, metodologi penelitian, kemajuan pelaksanaan tahapan penelitian, metode komunikasi di dalam tim penelitian, kuantitas dan kualitas laporan kemajuan dalam menyampaikan kemajuan penelitian kepada stakeholders.

Indikator luar terdiri dari dua aspek yaitu produced output dan consumed output. Sementara itu indikator hasil dapat dilihat dari indikasi dampak produk penelitian secara menyeluruh. Produced output merupakan pengukuran output penelitian yang didasarkan pada hasil penelitian. Indikator output yang dihasilkan adalah jumlah publikasi, jumlah paten, jumlah pasal dalam buku, jumlah makalah seminar dipublikasi. Consumed output merupakan indikator yang dihasilkan dari penggunaan/aplikasi outpun penelitian, diantaranya: jumlah sitasi dalam paper skala nasional dan internasional; jumlah bahasan dan doctor yang dihasilkan (untuk kasus penelitian akademik).

Selain output yang menjadi indikator juga adalah outcome atau yang kita sebut diatas sebagai indikator hasil. Outcome lebih melihat bagaimana penelitian itu berdampak kepada internal knowledge domain maupun eksternal diluar knowledge domainnya. Secara internal riset impact diukur berdasarkan perkembangan metode teori dan inovasi baru sesudah menentukan kinerja output, kemudian ditentukan berapa lama produce output menjadi knowledge domain dari sains. Dampak eskternal melihat dan menugkur bagaimana impact dari penelitian tidak hanya dirasakan oleh knowledge domain, tapi juga komunitas dan lingkungan diluarnya.[5]

Terry Mart salah seorang ilmuwan/pengajar fisika partikel yang sangat produktif meneliti dan menulis dalam jurnal-jurnal internasional mencoba menawarkan, menurutnya, terutama dalam konteks sains dan teknologi riset yang baik dan dianggap berhasil itu adalah menghasilkan tiga hal: 1) produk atau inovasi baru yang dapat langsung dipakai oleh industri (bukan hanya sekedar protipe), (2) paten, atau (3) publikasi di jurnal internasional.[6]

Semenjak tahun 2004, dikti menetapkan bahwa indikator keberhasilan pelaksanaan penelitian pada 1)jumlah paten yang diperoleh. 2)banyak judul penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nasional dan/atau internasional.3) banyaknya rekayasa sosial/kebijakan publik/teknologi tetap guna yang dapat diterapkan oleh masyarakat dan 4)banyaknya buku ajar yang ditulis oleh para dosen sebagai buku pegangan dalam memberikan kuliah.[7]

Kembali mengacu pada Lynn Grigg bahwa tidak ada ukuran keberhasilan riset yang satu untuk semua bidang ilmu. Semuanya tergantung konteks penelitian dan bidang imunya. Misalnya bidang ilmu sosial, beberapa criteria mungkin tidak bisa semuanya dikuantifikasi semata-mata disejajarkan dengan penilaian ilmu-ilmu alam. Apalagi dalam penelitian modern seperti yang dijelaskan oleh Bourke dan Butler (1993) adalah sangat multidisiplin dengan struktur intelektual peneliti dan  orientasi lapangan dari unit penelitiannya yang khas.


Apa yang sudah Dilakukan

Sebelum tahun 1980an, penelitian, khususnya di perguruan tinggi langsung dilaksanakan di masing-masing perguruan tinggi dengan berbagai variasinya. Semenjak tahun 1984 dana penelitian dari Dikti sampai tahun 1987, dana penelitian sangat terbatas berturut-turut hanya untuk 146, 32, dan 10 judul saja dengan dana sekitar 300.000/judul.

Dimulai tahun 1988/1989 melalui dana pinjaman Bank Dunia XXI diperkenalkan untuk pertama kali model penanganan penelitian PT secara kompetetif. Program penelitian yang pertama kali diperkenalkan adalah penelitian Berbagai Bidang Ilmu (BBI). BBI terbuka untuk dosen dimana saja dan dengan bidang ilmu apa saja. Penelitian ini disebut juga dengan penelitian dosen muda dan ketika program WB berakhir penelitian BBI ini berubah nama menjadi penelitian dosen muda dengan dana rupiah murni. Hingga 2001 telah didanai sebanyak 11.125 penelitian dengan total pendanaan 51.350.000.000. Belum ada penelitian komprehensif tentang output dan outcome penelitian yang telah dilakukan selama kurun waktu itu. Dalam Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Lintas Waktu hanya disebutkan impact untuk kontek seting sosial terbatas, yaitu menumbuhkan budaya meneliti pada peneliti muda.


Salah satu evaluasi waktu itu adalah dana penelitian model BBI dengan hanya 4-5 juta perjudul penelitian diaanggap jumlah yang kecil untuk menghasilkan sesuatu yang besar, maka  pada 1992 lagi-lagi dengan menggunakan dana WB meluncurkan program penelitian hibah bersaing dengan orientasi pada produk, apakah itu prototype, varietas unggul, termasuk juga konsep, metodologi, kebijaksanaan dsb. Jumlah dana per judul penelitian adalah 40-60 juta per tahun dan bersifat multi year. Dengan modalitas baru ini, guru besar/S 3 serta dosen yang berasal dari UI, IPB, ITB dan UGM tidak boleh lagi mengajukan usulan ke BBI. Inilah awal dimulainya di diknas suatu penelitian bergengsi dengan system kompetisi berjenjang. Dari hibah bersaing satu hingga sembilan telah dikeluarkan dana hampir Rp. 80 Miliar untuk 2.889 judul penelitian.

Dari penelitian hibah bersaing ini ada beberapa evaluasi yang dihasilkan, diantaranya
a. Setiap judul rata-rata digunakan untuk membimbing 4.3 mahasiswa S 1, 0.8 S2 dan 0.3 S3, menghasilkan rata-rata 1.0 seminar di dalam negeri dan 0.33 seminar di luar negeri.
b.  Setiap judul rata-rata memerlukan biaya Rp.111.7 juta atau Rp 42 juta per tahun
c.  Dalam hibah ini melibatkan peneliti utama yang guru besar 11 per sen, S3 54 Per sen, S2 28 Per sen dan S1 7 per sen.

Semenjak tahun 1995, Diknas juga memiliki program penelitian yang dikaitkan dengan pembinaan program pascasarjana, yaitu program university Research For Graduate Eduacation (URGE) dengan dana 70 per sen dari pinjaman Bank Dunia dan 30 per sen dari rupiah murni. Penelitian atau disebut sebagai  Research Grant sebagai bagian dari komponen URGE terdiri dari team research dan young academic program. Team research diusulkan oleh guru besar/tim pembimbing dengan mencantumkan mahasiswa S2/S3 yang akan dihasilkan dari penelitian. Sementara young academic adalah program penelitian doctor baru, 1-2 tahun kembali dari pendidikan sebagai after care mengisi waktu penyesuaiaan.  Program dengan skema pendanaan seperti disebutkan berjalan selama kurang lebih lima tahun dan selanjutnya dilaksanakan dengan rupiah murni.[8]

Saat ini dikti, program penelitian yang eksis (hampir semuanya kompetitif, kecuali beberapa diantaranya seperti hibah kompetensi) yaitu program hibah penelitian RAPID[9], Hibah penelitian fundamental, hibah penelitian kerjasama perguruan tinggi (PEKERTI)[10], hibah penelitian hibah bersaing, penelitian dosen muda dan studi kajian wanita[11], hibah Penelitian Pasca Sarjana.

Pada tahun 1993, bersamaan dengan meluncurnya berbagai program penelitian Diknas,  Kantor Menristek meluncurkan program yang sejenis yaitu Riset Unggulan Terpadu (RUT) dan Riset Unggulan Kemitraan (RUK), kemudian Riset unggulan Strategi Nasional. KMNRT tidak hanya melibatkan LPND-LPND koordinasinya, tapi juga mengikutkan perguruan tinggi dalam memanfaatkan skim-skim penelitian yang ada. KMNRT juga memiliki program RUTI. Karena banyak institusi yang terlibat, biaya yang disediakan relatif besar. Untuk RUT dan RUK, sepuluh tahun penerapan program, 75 per sen dari dana kompetetifnya dimenangkan oleh peneliti utama yang berasal dari dosen PT.

Dalam program RUT telah dikembangkan dan dilakukan  program riset di bidang seperti (1) Teknologi Perlindungan Lingkungan, (2) Bioteknologi, (3) Rancang Bangun dan Perekayasaan, (4) Teknologi Hasil pertanian dan (5) Elektronika dan Informatika yang masuk dalam lima bidang priorioritas riset nasional sepanjang RUT I dan RUT VI. Program itu kemudian diterjemahkan ke dalam tema-tema riset/sub bidang. Sementara program RUK yang mencoba mengembangkan keterkaitan antara lembaga penelitian dengan industri, KMNRT telah meluncurkan program penelitian seperti di bidang Teknologi Hasil Pertanian , Teknologi Energi, Ilmu Bahan  dan Elektronika.[12]


Hasil dan Tantangan  Riset Nasional
M. Rifai, seorang Profesor riset LIPI, Ahli Taksonomi Fungi, pernah memberikan suatu gambaran miris tentang kapabilitas dosen-dosen Indonesia dalam meneliti. Berdasarkan proposal-proposal penelitian yang masuk ke Departemen Pendidikan Nasional, Dikti, M. Rifai berani menyimpulkan hanya 1,1 persen saja dosen yang layak meneliti. M. Rifai tidak sepakat dana menjadi halangan untuk meneliti. Menurut Rifai dengan sedikitnya dosen yang layak meneliti maka tidak heran menurutnya rendahnya angka publikasi internasional dari intelektual-intelektual Indonesia termasuk dosen.[13] Pernyataan M. Rifai ini sejalan dengan pencapaian KEI (Knowledge Economic Indicators) Indonesia yang menjadi proxi penting dalam menilai peran pengetahuan termasuk didalamnya kegiatan riset dalam mendorong pembangunan perekonomian suatu Negara.  Semenjak tahun 1995 sampai tahun 2007, posisi KEI Indonesia hanya naik satu peringkat dari rengking 92 menjadi 91(dan berdasarkan rilis terakhir, posisi Indonesia justru jatuh pada urutan 108). Indonesia juga bisa berkaca pada ISI dan secara tidak langsung juga pada rengking universitas Indonesia, terutama untuk universitas, dalam WCU yang juga secara tidak langsung menggambarkan bagaimana penelitian dan produktifitas dosen Indonesia.


Salah satu indicator kunci KEI yang juga menjadi gambaran dari kinerja riset Indonesia, yaitu  jumlah publikasi jurnal internasional/sejuta penduduk dan patent yang diberikan oleh UPSTO/sejuta penduduk, Indonesia masih sangat rendah.


Publikasi Internasional merupakan salah satu indikator keberhasilan riset yang bisa dikatakan sudah menjadi konsensus umum. Sebuah riset yang baik dan berhasil dapat dilihat dari publikasinya yang dinilai (berarti juga diakui) oleh tim reviewer/tim ahli yang juga menggambarkan mutu/kualitas risetnya. Produktifitas penelitian dan ilmuwan dalam publikasi di jurnal Internasional per sejuta penduduk hanya 0,80 per sejuta penduduk. Padahal pada saat yang sama, India mampu menyumbang 12 artikel per sejuta penduduk dan Malaysia telah berkontribusi sebanyak 21 artikel per sejuta penduduknya. Performa publikasi jurnal Internasional yang sedikit itu hanya disumbangkan oleh sedikit ilmuwan/peneliti militan Indonesia, mungkin pada kelompok yang berjumlah 1,1 persen seperti yang disebutkan M. Rifai, seperti mereka yang terjaring dalam index tertinggi dari Leading Scientist and Engineers of OIC Member States.[14]

Perguruan tinggi sebagai bagian dari institusi riset yang paling  banyak memanfatkan skim riset nasional, seperti terlihat pada data Laporan Akuntabilitas Departemen Pendidikan Nasional, kontribusi publikasi ilmiah jurnal internasionalnya tidak terlalu produktif. Pada tahun 2005 jumlah publikasi mencapai angka 60 buah, tapi pada tahun 2006 dan 2007 hanya 21 dan 30 artikel ilmiah.[15]

Essential Science Indicators (ESI) yang dikelola oleh Institute for Science Information (ISI), sebuah lembaga yang setiap tahunnya mengeluarkan lebih dari 70.000 jurnal ilmiah (berpusat di Philadelphia, Amerika) berdasarkan jumlah kutipan yang diterima setiap jurnal dibagi dengan jumlah paper yang diterbitkan selama dua tahun terakhir, juga menjadi barometer bagaimana produktifitas ilmuwan dunia. Sebetulnya untuk melihat lebih kasar jumlah kutipan paper internasional, bisa juga ditelusuri dengan google scholar. 

Berdasarkan pada data ESI, maka ada lima kelompok bidang penelitian Indonesia yang jumlah publikasinya cukup menonjol yaitu clinical medicine, plant&animal science, environmental/ecology, goescience dan agricultural siences. Selain lima bidang itu, dalam ESI juga ada bidang chemistry, engineering, physics, biology&biochemistry dan microbiology.  Dari deretan bidang ilmu itu, Indonesia tidak memiliki publikasi di bidang ilmu Matematika, komputer science dan neuroscience dan behavior, setidak-tidaknya mengacu pada data sampai tahun 2006.[16]




Perkembangan Publikasi dari Indonesia, 1994-2004

Kalau kita lihat kuantifikasinya, terlihat sekali ketertinggalan Indonesia, misalnya dengan Negara-negara ASEAN, apalagi dengan Negara-negara ASIA. Pada kurun 2000-2004, jumlah publikasi dari Singapura, Thailand dan Malaysia masing-masing 3.086, 2.125 dan 700. Indonesia hanya mampu manyumbang 371. Indonesia akan semakin terlihat tertinggal jauh, jika melihat publikasi Korea Selatan dan Cina yang masing-masing berjumlah 10.741 dan 14.643.


Perkembangan Total Publikasi di Beberapa Negara, 1994-2004


Perbandingan Publikasi dari 4 Negara ASEAN dalam bidang Clinical Medicine, 1995-2004

Indonesia juga bisa berkaca dari pencapaian penelitian dalam konteks publikasi internasional per bidang ilmu yang mencoba menghitung olimpiade kutipan. Misalnya bisa kita ambil bidang fisika partikel yang memiliki modalitas dan instrumen menghitung yang cukup stabil. Di dalam bidang fisika ada data base fisika partikel yang berlokasi di University Stanford (SLAC-SPIRES) yang merilis oliampiade kutipaan terhadap paper-paper ilmiah fisika partikel dari 100 negara. Menurut keterangan Terry Mart yang mempopulerkan tentang olimpiade kutipan ini, topcite oliympic ini adalah data dari sekitar setengah juta paper fisika partikel yang dipublikasikan antara tahun 1950an dan 2004. Ada empat criteria paper yang mendapatkan medali, yaitu well known (dikutip lebih dari 50 paper lain), famous (dikutip lebih dari 100 paper), renowned (dikutip lebih dari 500 paper) dan top (dikutip lebih dari 1000 paper).[17]

No Urut
Country
1000+
500+
100+
50+
Total number
of papers
Total Population
GDP ($US 109)
GDP per capita
1
United States
198007
290342554
10400
35819
2
EU
32
178
3552
9433
211075
449491575
10279
22868
3
Switzerland
43426
7318638
231
31563
4
Russia
61366
144526278
1350
9340
5
United Kingdom
38789
60094648
1520
25293
6
Germany
69268
82398326
2184
26505
7
Italy
9
46813
57998353
1438
24793
8
France
7
37411
60180529
1540
25589
9
Canada
6
18673
32207113
923
28658
10
Sweden
6
7132
8878085
227
25568
11
Japan
4
42606
127214499
3550
27905
12
Poland
3
12371
38622660
368
9528
14
Denmark
2
5429
5384384
155
28786
15
Belgium
2
6
5544
10289088
297
28865
16
Korea
2
4
5250
70955518
953
13430
17
Chile
2
4
1520
15665216
151
9639
18
Australia
2
3
5463
19731984
528
26758
19
Netherlands
1
9176
16150511
434
26872
20
Israel
1
5
8199
6116533
122
19945
21
Taiwan
1
4
3225
22603001
406
17962
22
Spain
1
3
12633
40217413
828
20588
23
Portugal
1
2
2861
10102022
182
18016
24
India
1
1
13783
1049700118
2660
2534
25
Brazil
1
1
10343
182032604
1340
7361
26
Mexico
1
1
3927
104907991
900
8578
27
Colombia
1
1
591
41662073
268
6432
28
Finland
0
4
4045
5190785
136
26200
29
Austria
0
3
5015
8188207
226
27600
30
China
0
1
12633
1286975468
5700
4428
31
Greece
0
1
4149
10665989
201
18844
32
Hungary
0
1
3466
10045407
134
13339
33
Norway
0
1
2507
4546123
143
31455
34
Slovenia
0
1
1240
1935677
36
18598
35
Ukraine
0
1
5371
48055439
218
4536
36
Bulgaria
0
0
2137
7537929
50
6633
37
Czech Republic
0
0
2666
10249216
155
15123
38
Slovakia
0
0
1736
543033
66
12154
39
Argentina
0
0
2350
38740807
391
10092
40
Armenia
0
0
3642
3326448
12
3607
41
Ireland
0
0
1726
3924140
118
30070
42
Croatia
0
0
1268
4422248
39
8819
43
Turkey
0
0
1552
68109469
468
6871
44
Georgia
0
0
8
1948
4934413
15
3039
45
South Africa
0
0
8
1375
42768678
432
10100
46
Romania
0
0
7
2678
22271839
166
7453
47
Venezuela
0
0
7
581
24654694
132
5353
48
Iran
0
0
5
767
68278826
456
6678
49
Morocco
0
0
5
8
378
31689265
115
3628
50
Uzbekistan
0
0
4
8
1032
25981647
65
2501
51
Cyprus
0
0
3
359
771657
9
11663
52
Kazakhstan
0
0
3
8
1097
16763795
105
6263
53
Uruguay
0
0
2
7
156
3413329
26
7617
54
Pakistan
0
0
2
5
523
150694740
311
2063
55
Estonia
0
0
1
246
1408556
15
10649
56
Belarus
0
0
1
9
1194
10322151
85
8234
57
Philippines
0
0
1
5
83
84619974
356
4207
58
New Zealand
0
0
1
5
367
3951307
79
19993
59
Costa Rica
0
0
1
5
59
3896092
32
8213
60
Indonesia
0
0
1
4
87
234893453
663
2822
61
Saudi Arabia
0
0
1
3
231
24293844
242
9961
62
Azerbaijan
0
0
1
3
525
7830764
27
3447
63
Vietnam
0
0
1
2
172
81624716
183
2241
64
Sudan
0
0
1
2
47
38114160
52
1364
65
Kuwait
0
0
1
2
47
2183161
34
15573
66
Singapore
0
0
1
1
226
4608595
105
22783
67
Algeria
0
0
1
1
245
32818500
167
5088
68
Egypt
0
0
0
553
74718797
268
3586
69
Iceland
0
0
0
5
74
280798
7
24928
70
Ecuador
0
0
0
3
92
13710234
41
2990
71
Tadzhikstan
0
0
0
2
99
6863752
8
1165
72
Lebanon
0
0
0
2
118
3727703
19
5096
73
Sri Lanka
0
0
0
1
25
19742439
73
3697
74
Moldova
0
0
0
1
154
4439502
11
2477


Menurut Terry Mart, pencapaian Korea dan Polandia yang mampu masuk 20 besar dan mendulang beberapa top cite karena mereka terlibat dalam kolaborasi riset yang disebut Super-Kamiokande di Jepang yang berhasil membuktikan bahwa neutrino memiliki massa atau Kolaborasi D0 di Fermilab Amerika yang berhasil mengamati Quark top. Swiss dengan populasi kurang lebih 8 juta berhasil bertengger di top five, karena pusat riset ukli dan partikel eroa CERN berada di negaranya. Jadi ada kolaborasi riset internasional dan investasi infrastruktur penelitian yang tidak sedikit untuk mendorong proliferasi hasil riset di level internasional. Indonesia belum memiliki top cite dan renowned yang menandakan kualitas hasil riset, terutama bidang fisika partikel.[18]

Paten[19] merupakan gambaran dari kinerja penelitian terapan, gambaran dari sejauh mana suatu hasil riset menjadi teknologi yang menjadi hak ekslusif penemunya dan memberikan nilai tambah bagi sector ekonomi. UPSTO merupakan salah satu kantor paten yang berpusat di Amerika, setiap tahun melayani permohonan paten dari seluruh dunia. Karena banyaknya pihak yang mencoba mendaftarkan patennya di UPSTO,  disamping diduga karena Amerika adalah pasar internasional terbesar, UPSTO menjadi barometer dan indikator atas kemampuan teknologi dan daya saing dari suatu Negara, yang tentu saja menjadi cerminan kinerja riset di dalamnya. Indonesia hanya mampu menyumbangkan patent 0,80 per sejuta penduduk sama tidak produktifnya dengan publikasi ilmiah. Menandakan hasil penelitian masih terhenti pada tahap laporan penelitian, konsep dan protipe. Pada saat yang sama India menyumbang 0.30 dan Malaysia jauh diatas, yaitu 3.03 per sejuta penduduk.[20]

The World Intellectual Property Organization (WIPO) juga menggambarkan kecilnya  pencapaian Indonesia di bidang invensi yang kemudian menjadi hak ekslusif dilindungi ini kepada segenap penggerak R&Dnya. Padahal pada saat yang sama orang telah membicarakan fenomena Negara Asia seperti China, Korea Selatan dan India dalam mengusulkan dan memperoleh patent. Mungkin Indonesia bisa sedikit “tidak bersalah”, karena pemohon paten dalam konteks WIPO ini adalah didominasi oleh inventor-inventor dari Perusahaan-perusahaan besar dunia yang Indonesia tidak memilikinya, walaupun sebagian ada memiliki kantor di Indonesia, tapi sekaligus menandakan bahwa Indonesia sangat ketinggalan di bidang teknologi.[21]

Berdasarkan data WIPO  semenjak 2000 sampai tahun 2005, Indonesia hanya memiliki aplikasi paten rata-rata sebanyak 8,5 aplikasi. Pada tahun 2000 ada 9 aplikasi, 6 pada 2001, 16 pada 2002, 2 pada 2003, 12 pada 2004 dan  12 pada 2005. Sementara itu Malaysia memiliki rata-rata aplikasi 25 per tahunnya. Rata-rata pencapaian Indonesia ini relatif tidak berubah sampai tahun 2008 ini. Padahal pada tahun 2007, Asia diwakili Jepang menjadi aplikan terbanyak dalam patent, terutama dalam konteks perusahaan, melalui perusahaan mereka, Matsushita Electric Industrial Co Ltd dengan 2100 permohonan. Dan pada saat yang sama juga, China berkibar dengan Huawei Technologies Co Ltdnya, perusahaan dari China masuk empat besar pemilik paten terbanyak di dunia.[22]

25 Besar perusahaan pemohon paten melalui PCT 2007
Nama
Negara
Jumlah
Matsushita Electric Industrial C
Jepang
2100
Koninklijke Philips Electronics
Belanda
2041
Siemens Aktiengesellschaft
Denmark
1644
Huawei Technologies Co Ltd
China
1365
Roberst Bosch GMBH
Jerman
1146
Toyota Jidisha Kabushiki Kaisha
Jepang
997
Qualcomm Incorporated
AS
074
Microsoft Corporation
AS
845
Motorola Inc
AS
824
Nokia Corporation
Finlandia
822
BASF Aktiengesellschaft
Denmark
810
3M Innovatie Propertirs Company
AS
769
LG Electronics
Korsel
719
Fujitsu limited
Jepang
708
Sharp Kabushiki Kaisha
Jepang
702
NEC Corporation
Jepang
626
Intel Corporation
AS
623
Pioneer Corporation
Jepang
611
IBM
AS
606
Samsung Electronics Co Ltd
Korsel
598
Telefonaktiebolaget LM Ericsson
Swedia
597
The Procter & Gamble Company
AS
575
Honeywell Internasional Inc
AS
520
EI Dupont De Nemours
AS
504
General Electric Company
AS
438
Sumber: WIPO

Pendanaan Penelitian
Salah satu faktor yang sering dianggap sebagai penyebab dari “buruk rupa” wajah riset nasional Indonesia adalah rendahnya kemampuan pemerintah Indonesia dalam menyediakan public expenditure untuk R&D/riset pengembangan seperti dengan baik terlihat dari Human Development Report 2006, yaitu hanya sebesar 0,5% dari PDB. Di Malaysia 0,7%, China 1,1%, Singapura 2,1%, dan yang paling besar Korea Selatan, 3,0% dari PDB adalah untuk riset. Beberapa pengamat mengatakan, inilah yang menjadi masalah mendasar penelitian di Indonesia yang berkontribusi atas “bentuk” perwajahan/kinerja riset nasional.
LIPI melalui Pusat Penelitian Perkembangan  secara lengkap dan longitudinal menghitung bagaimana sebetulnya pergerakan pendanaan R&D di Indonesia semenjak tahun 1969 sampai 2004, dua orde pemerintahan, Orde Baru dan Reformasi. Dana Iptek, dimana termasuk R&D di dalamnya, kecendrungannya adalah terus menurun secara linear dan eksponensial. Pada tahun 1969/1970 pemerintah Indonesia menganggarkan di dalam APBN untuk dana IPTEK  sebanyak 5,2 persen dari total APBN, bahkan pada 1971 mencapai puncaknya mendekati angka 7 persen. Akan tetapi jumlah terus merangkak turun sampai pada tahun 2004 alokasi anggaran untuk Iptek hanya 0,56 persen.

rasio anggaran iptek dan litbang terhadap APBN, 1969-2004
Dalam kurun waktu 36 tahun itu, secara absolut anggaran Iptek memang terlihat selalu mengalami kenaikan, akan tetapi kenaikan itu dibawah kenaikan APBN, oleh karena itu rasio anggaran terhadap APBN terus menurun. Anggaran Iptek naik 150 kali lipat, akan tetapi APBN lebih dari 1400 kali lipat kenaikannya.
Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto seperti dalam Human Development Report, maka trendnya tidak jauh berbeda dengan rasio anggaran terhadap APBN. Rasio tertinggi terjadi tahun 1971 sebesar 0,74 per sen PDB. Bedanya adalah rasio terhadap PDB adalah linear menurun, sementara terhadap APBN eksponensial menurun. Artinya komitmen pemerintah untuk mendukung riset atau iptek pada umumnya cendrung menurun.

Sementara itu lebih spesifik, rasio anggaran litbang terhadap PDB, mencapai puncaknya pada 1982 yaitu 0,5 persen dan mencapai titik nadirnya pada tahun 2004 dengan angka 0.05 persen. Pada tahun yang sama Singapura rasio anggaran litbangnya terhadap PDB 36,6 persen, Malaysia 32,1 persen dan Korea Selatan 23,9 persen.

Bagaimana dengan pendanaan litbang di perguruan tinggi?sebagian besar dana penelitian di perguruan tinggi (mencapai 71,10 per sen total belanja litabang) berasal dari pemerintah. Sementara itu dari pihak Swasta sebagai bagian dari triple helix hanya menyumbang sekitar 14,22 per sen saja (9,95 per sen dari swasata dalam negeri, 0,65 persen dari LSM luar negeri). Sisanya berjumlah 6,38 per sen berasal dari perguruan tinggi sendiri diantaranya dari uang SPP;1,27 per sen dari kerjasama dengan pemerintah negera lain; 5,48 persen lembaga multilateral dan 1,20 per sen dari sumber lainnya.

Dari komposisi sumber pendanaan itu Belanja kegiatan litbang di perguruan tinggi sebagian besar dialokasikan untuk penelitian terapan 56,91 persen, sisanya sebesar 33,97 persen untuk pengembangan eksperimental dan 9,12 persen untuk penelitian dasar.

Sebaran Belanja Litbang Menurut Jenis Kegiatan, 2004

Dan kalau dilihat dari kelompok fakultas,  belanja litbang ilmu sosial cukup tinggi yaitu 57,26 persen, dan sebanyak 45,5 persen darinya adalah belanja litbang kelompok fakultas ekonomi. [23]

Sebaran Belanja Litbang Menurut Kelompok Fakultas, 2004

Sumber Daya Manusia Penelitian

Beberapa pemikiran mengatakan bahwa akar permasalahan penelitian di Indonesia bukanlah terletak pada pendanaan seperti dijelaskan diatas, akan tetapi lebih kepada kompetensi sumber daya penelitinya. Permasalahannya bisa terkait dengan kuantitas peneliti maupun kualitas peneliti. Katakanlah dananya besar, tapi kalau penelitinya tidak kompeten tetap akan tidak bisa menciptakan critical mass peneliti yang mampu merebut berbagai peluang penelitian yang ada dengan ide/kretifitas yang tidak pernah kering dan akibatnya menghasilkan penelitian yang tidak bagus dan tidak layak publikasi.

Saat ini, jumlah peneliti dan perakayasa di LPND dan LPD yang memiliki Litbang lainnya berjumlah sekitar 7170. PNS yang melakukan penelitian di dalam litbang pemerintah dikelompokkan ke dalam kategori peneliti, teknisi atau staf pendukung. Jumlah dosen diseluruh Indonesia dengan mandat tridarma perguruan tinggi, berjumlah 150 ribu orang yang tersebar dalam empat kategori, dosen tetap PNS, dosen PNS DPK, Dosen Yayasan Tetap dan dosen honorer. 

No
Instansi
Peneliti
Total
Pertama
Muda
Madya
Utama

III/a
III/b
III/c
III/b
IV/a
IV/b
IV/c
IV/d
IV/e

1
DPR RI


4
13
10
3
1

1
32
2
DKP
61
35
30
29
38
40
31
14
15
293
3
DEPTAN
173
141
294
223
282
171
122
101
183
1690
4
DEPSOS
14
14
22
26
16
11
3
2
2
110
5
DEPPU
19
8
29
17
31
28
16
11
16
175
6
DEPPERIN
31
36
72
57
64
26
12
5

303
7
DEPPERDAG



1
2
2


1
6
8
DEPNAKERTRANS
10
3
6
11
10
16
7
3
3
69
9
DEPKUM-HAM


4
1
12
3
4
2
1
27
10
DEPKOP-UKM
5
6
2
5
7
8
3
3
1
27
11
DEPKOMIMFO
15
14
18
22
20
7
3
1
1
101
12
DEPKES
65
56
61
32
54
56
16
8
25
373
13
DEPKEU
20
6
5
3
6
3
2
1
1
47
14
DEPHUT
102
59
67
37
61
46
32
16
28
439
15
DEPHUB
23
21
24
17
17
8
2
2
3
117
16
DEPBUDPAR
18
29
77
51
54
26
16
10
6
287
17
DEPDIKNAS
34
34
57
51
33
21
8
4
4
246
18
DEPAG
10
12
16
10
20
13
14
13
18
126
19
DEP.ESDM
25
27
31
19
47
27
24
18
20
238
20
BPS

2
5
4
4



2
17
21
BSN
7
2

2
4


1

16
22
DDN
36
15
9
19
11
32
27
12
6
167
23
BPN

1
1
2
1


1

6
24
BPPT
10
9
41
35
46
39
21
20
24
245
25
BKKBN
3
3
4
3
9
8
2
1

33
26
BMG
10
5
1

2




18
27
BATAN
27
21
52
82
89
75
33
35
65
479
28
BAPETEN

1
1
2
1
2
1

1
9
29
ANRI







1

1
30
BAKOSURTANAL
1
4
6
11
15
1
4
3
2
47
31
KEJAGUNG

1
4
3
3
6
3
1
1
22
32
LAN
7
2
3
8
4
2

1
1
28
33
LAPAN
21
25
50
42
32
45
18
14
13
250
34
LIPI
102
100
149
121
177
159
95
71
133
1111
35
BKN
1

1






2

JUMLAH
854
692
1146
959
1182
874
511
375
577
7170

JUMLAH TOTAL
7170
Sumber data secretariat TP3, Cibinong, 27 Mei 2008.

Jumlah tenaga peneliti Indonesia itu terbilang sedikit jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga atau untuk memperbaiki KBI. Mengacu pada dokumen Human Developmen Report (HDR), jumlah tenaga peneliti bidang R&D per satu juta penduduk di Indonesia hanya sebanyak 130. Sementara itu di Malaysia sudah mencapai 160, China 548, Korsel: 2.880, dan yang paling banyak Singapura: 4.052.
Berdasarkan survei lembaga litbang pemerintah tahun 2004 yang dilakukan oleh KRT terlihat komposisi tenaga litbang pemerintah pada tahun 2003, 37 persen adalah tenaga peneliti, 28 persen tenaga teknis, dan 35 persen adalah staf pendukung. Dari total peneliti, teknisi dan staf pendukung di litbang, hanya sekitar 4,6 persen saja yang sudah S3. Sebanyk 13 persen adalah S2 dan 29 persen sisanya adalah berpendidikan S1.
Dari data headcount kemudian dilihat dengan metode full time equivalent (FTE, atau yang biasa juga disebut dengan waktu efektif) , ternyata para peneliti yang sudah terbatas itu juga tidak “total football” dalam  kerja penelitiannya. Hasil survei pada tahun 2003 menunjukkan waktu efektif tenaga litbang rata-rata adalah 0,55. FTE rata-rata peneliti adalah sebesar 0,58 persen. Secara umum, tenaga litbang hanya menggunakan setengah waktu kerjanya untuk kegiatan litbang. [24]
Di perguruan tinggi SDM yang terlibat dalam penelitian terdiri dari: peneliti yang terdiri dari dosen atau professional, teknisi dan staf pendukung. Rasio SDM yang berpendidikan S2 yang terlibat penelitian cukup tinggi, diikuti oleh S1 dan S3. Hampir 85 persen diantara ketiga kategori itu adalah dengan status dosen. Angka partisipasi dosen yang melakukan penelitian di semua kelompok fakultas kurang dari 0,40.
Sebaran litbang perguruan tinggi menurut kelompok fakultas dan dan tingkat pendidikan 2004
demikian juga SDM litbang perguruan tinggi yang dikoordinasikan oleh lembaga penelitian, mayoritas berpendidikan S2, kumudian disusul S1 dan S3.
Akan tetapi mengacu pada analisa KMNRT terhadap pelaksanaan program RUT dan RUK dari interval waktu 1993-2000 atau dari RUT I-RUT VI, peneliti bergelar Doktor lebih mendominasi dibandingkan dengan peneliti bergelar Profesor, master dan apalagi sarjana. Data di bawah ini menunjukkan periset bergelar doctor nyaris 4-5 kali lebih banyak daripada jumlah periset bergelar master, bahkan jumlah perbandingan itu semakin membengkak jika dibandingkan dengan professor yaitu 8-10 kali lipat. Menurut KMNRT, dilihat kecendrunganya periset bergelar doctor jumlahnya berfluktuasi antara 75-100 orang. Kecenderungan menaik ditunjukkan oleh periset bergelar master. Kecendrungan ini tidak pada professor dan tidak pula pada sarjana. Selama RUT 1-VI, kuantitas partisipasi guru besar hanya rata-rata 6 orang  pertahunnya.[25]
Profil Partisipasi Peneliti Utama RUT I-VI
Akan tetapi korelasi pendidikan dan partisipasi penelitian ini tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh lembaga penelitian atau perguruan tinggi. Trend positif partisipasi doctor ini akan terkoreksi jika dilihat lembaga atau universitas mana saja yang termasuk tujuh institusi riset yang mendominasi RUT 1-RUT II. Mereka adalah ITB, UGM, UI, IPB, LIPI, DEPTAN, BATAN. Dan dalam satu RUT tertentu muncul juga ITS, UNHAS saling menggantikan posisi. Ini pulalah mungkin yang menjadi alasan kenapa UI, ITB, UGM, IPB bisa masuk dalam tangga World Class University (WCU).
Profil Tingkat Partisipasi Institusi Pelaksana RUT I-VI (kelompok 8 besar dan 7 terbaik)
Selama ini belum ada suatu penelitian dan pemetaan yang lengkap tentang kekuatan peneliti perbidang ilmu atau per bidang studi di basis institusi/unit pelaksana penelitian. Akibatnya pemerintah tidak bisa secara jernih membuat analisa dan mengambil kebijakan, misalnya untuk menentukan tema-tema riset unggulan nasional. Seharusnya disamping mempertimbangkan factor kebutuhan, juga sangat hasur dipertimbangkan adalah kompetensi peneliti yang akan melaksanakannya sebagai bagian ditetapkannya suatu riset itu harus diprioritaskan atau tidak. Apa yang terjadi kemudian?misalnya, tiba-tiba beberapa bidang ilmu yang dibutuhkan ternyata telah mengalami stagnasi kaderisasi peneliti. Misalnya di LIPI, terjadi kekurangan pakar taksonomi.  Indrawati Ganjar, pakar kapang rhizopus, dan Mien Rifai, pakar fungi (jamur) sekarang telah lanjut usia, para pengganti tidak terlihat. Semenjak meninggalnya pakar taksonomi sponge (spons) LIPI, Iksan Amir, hingga kini belum ada penggantinya. Ketiadaan taksonom spons menyebabkan sampel-sampel temuan di perairan Indonesia dikirim ke luar negeri yang sangat rawan pencurian oleh pihak asing. Apalagi yang terjadi?dilakukannya riset-riset yang tidak bermutu dan tidak bisa dipublikasikan dan dipatenkan.[26]
Prediksi Kapasitas Komunitas Riset Berdasarkan 10 bidang Punas (A-J) RUT I-VI
Berdasarkan prediksi tim Monev KMNRT mengacu pada 10 topik Punas, ditunjukkan bahwa beberapa bidang ilmu sudah membentuk critical mass penelitinya.
Gambar 12 menunjukkan minimal tiga model kurva ideal, yaitu (b, c dan d). Tampak bahwa kurva (b) ditunjukkan oleh bidang punas B (Teknologi Kedokteran), C (Teknologi Hasil Pertanian), F (Ilmu Kimia dan Proses), G (Teknologi Energi), H (Elektronika dan Informatika) dan J (Dinamika Sosial, Ekonomi & Budaya); sedangkan kurva (c) diwakili oleh bidang punas D (Rancang Bangun) , E (Ilmu Bahan/Material Baru) dan I (Teknologi Perlindungan Lingkungan). Meskipun bidang Teknologi Kedokteran menunjukkan kurva mendatar, namun kuantitas risetnya yang masih tergolong sangat rendah, tidak dapat dinyatakan berada pada pencapaian posisi critical mass. Kurva (d) ditunjukkan secara tepat oleh bidang punas A (Bioteknologi). Penurunan tajam seperti ini tentu harus memperoleh penjelasan luas, mengapa bidang yang memperoleh prioritas dan fasilitas khusus sampai menunjukkan kinerja semacam ini. Apalagi kurva stabilnyapun menunjuk pada kuantitas rendah” 
 Dari gambaran itu semua, critical mass diprediksikan terjadi pada bentuk kurva (b), oleh karena salah satu indikasi tercapainya critical mass adalah konsistensi dalam tingginya kuantitas dan kualitas hasil riset pada periode waktu panjang tanpa dipengaruhi populasi perisetnya. Hal ini menunjukkan keserasian kompetensi dan tingginya kapabilitas periset terhadap bidang punas ristek yang ditetapkan. Meskipun bidang punas ristek G (Teknologi Energi), J (Dinamika Sosial, Ekonomi dan Budaya) juga menunjukkan bentuk kurva (b), namun kuantitas risetnya rendah, belum dapat dikatakan bahwa critical mass nya telah tercapai. Dari data RUT, critical mass diprediksikan telah dicapai di komunitas Teknologi Hasil Pertanian dan Teknologi Perlindungan Lingkungan. Bidang punas Rancang Bangun, tanpa memperhatikan RUT IV sebenarnya juga mencerminkan tercapainya critical mass pada populasi perisetnya.
Diakui bahwa prediksi semacam ini belum tentu benar, masih harus dicek silang dengan data populasi, potensi dan profil periset nasional. Demikian pula, periode waktu observasi juga perlu diperpanjang, paling tidak, sesuai dengan kurun waktu pelaksanaan RUT yang telah mencapai tahun ke 9 pada tahun 2001 ini”[27]

Masih dalam konteks sumber daya penelitian, pemerintah Indonesia belum punya data yang cukup akurat dan kebijakan yang jelas bagaimana merespon gejala braindrain/imigrasi intelektual/peneliti terbaik Indonesia ke luar negeri. Menurut data World Bank Tahun 2006, tingkat migrasi intelektual dari Indonesia ke luar negeri masih cukup tinggi (4,3 dari skala 1-7), tetapi masih lebih rendah dari Malaysia (4,6), Thailand (4,9) dan Singapura(4,9).[28]

Manajemen Penelitian Nasional  
Selain factor pendanaan dan sumber daya riset, permasalahan lain yang cukup mendapat perhatian adalah manajemen riset nasional yang dinilai sangat berkontribusi  menentukan kinerja riset nasional. Tidak semua hal dituliskan terkait dengan manajemen penelitian nasional mengingat luasnya cakupan, beberapa contoh misalnya tumpang-tindih program riset, kurangnya sinergi/kolaborasi riset, minimal antara tiga institusi dan akibatnya sulitnya mendiseminasi hasil riset.
Secara tujuan, tema, penetapan agenda, tenaga peneliti antara perguruan tinggi dan lembaga ristek memang berbeda, tetapi bukanlah perbedaan yang signifikan. Secara normatif riset di perguruan tinggi diakui tujuan, tema, penetapan agendanya sangat dipengaruhi oleh tridarma perguruan tinggi, akan tetapi dua lembaga sama-sama mengharapkan IPTEK, HAKI, dan Solusi sebagai hasil risetnya. Lembaga ristek dan perguruan tinggi sama-sama memiliki peluang yang sama untuk berkompetisi memperebutkan skim-skim penelitian di KMNRT. 
Persoalannya adalah sedikitnya sinergi dan kolaborasi riset antara dua lembaga ini secara komprehensif, terlihat keduanya bergerak secara sendiri-sendiri. Demikian juga antara perguruan tinggi, meskipun Departemen Pendidikan Nasional memiliki skema hibah penelitian PEKERTI, ada CKNet-INA (Collaborative knowledge network-Indonesia), RAPID antara universitas-industri, akan tetapi belum terbentuk suatu “budaya kolaborasi” yang kuat. Padahal kalau ini terjadi banyak efesiensi penelitian yang bisa dilakukan misalnya dalam pemanfaatan infrastruktur penelitian yang memang terbatas, sinergi di bidang agenda riset, supervisi bersama, pelangganan jurnal ilmiah internasional bersama, pengembangan SDM bersama, resource sharing, diseminasi hasil penelitian dan termasuk pendanaan riset bersama, karena ada kesamaan untuk tidak mengatakan tumpang tindih program.







[1] Lihat Undang-Undang RI No. 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
[2] Tim Indikator iptek, Pappiptek-LIPI, Indikator IPTEK Indonesia 2006, Jakarta: LIPI Press, 2006
[3] diambilkan dari berbagai sumber
[4] Tim Indikator iptek, op cit
[5] Lihat Kedeputian Meneg Ristek Bidang Program Riptek, Pemantauan dan Evaluasi Manfaat serta Dampak Program RUT dan RUK Selama Periode Tahun 1993-2000, Jakarta: KMNRT, 2001.
[6] Terry Mart, Kesulitan dan Tantangan Penelitian di Indonesia (Kasus Fisika Nuklir dan Partikel Teori), makalah ini pernah dipresentasikan pada seminar Gabugna Perusahaan Farmasi Indonesia di Widya Graha LIPI, Jakarta, 23 Juni 2007.
[7] Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Karya Inovatif Perguruan Tinggi Tahun 2007, Jakarta: DP2M, Dikti, Depdiknas, 2007.
[8] Lebih lengkap tentang historitas penelitian di Departemen Pendidikan Nasional, khususnya di lingkungan Dikti lihat buku Pendidikan Tinggi Indonesia Dalam Lintas Waktu dan Peristiwa, Jakarta: Dirjen Dikti, Depdiknas, 2003. Lihat juga dokumen Pendanaan Bersaing (Competitive Funding) di Pendidikan Tinggi, Laporan Studi Evaluasi Internal Tahap awal, Majelis Pengembangan Dewan Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Desember 2006.
[9] Program Rapid merupakan wahana yang memberikan kesempatan bagi  terwujudnya hubungan kerja sinergis antara lembaga penghasil konsep dan teknologi dengan lembaga manufaktur/industri. Selanjutnya produk-produk industrial mutakhir dengan fitur-fitur baru, atau yang mampu memutus rantai ketergantungan dengan pihak luar negeri, dimungkinkan beredar di pasaran sebagai hasil penelitian-penelitian perguruan tinggi di dalam negeri.  Dengan demikian, budaya penelitian (yang bernuansa penciptaan produk secara berkelanjutan) akan tumbuh di dunia industri Indonesia, dan budaya industri (yang bernuansa time to market) akan tumbuh pula di perguruan tinggi di Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menumbuhkembangkan budaya penelitian yang menghasilkan temuan prospektif di pasaran dan baik dikembangkan menjadi produk industrial yang dapat diproduksi berbudaya penelitian dan memberikan manfaat bagi masyarakat, (2) mewujudkan kerjasama sinerji berkelanjutan antara perguruan tinggi sebagai lembaga penelitian dan industri sebagai lembaga manufaktur melalui penyeimbangan tarikan pasar dan dorongan teknologi, dan (3) mendorong berkembangnya sektor riil berbasiskan produk-produk hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri sendiri untuk menumbuhkan kemandirian perekonomian
bangsa.
Ruang lingkup bidang Rapid ditentukan secara top down.  Bidang yang dipilih merupakan bidang yang dinilai sangat stratejik bagi peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa adalah (1) Pertanian dan Pangan, (2) Kesehatan, (3) Teknologi informasi, (4) Energi, (5) Teknologi Manufaktur, dan
(6) Kelautan dan Perikanan.
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah (1) temuan teknologi dan atau produk yang siap dikomersialkan dan dipasarkan sebagai hasil kegiatan kerjasama antara dunia industri dan perguruan tinggi, (2) terbentuknya kerjasama sinerji antara perguruan tinggi dengan industri sebagai lembaga manufaktur dalam keberlanjutan hasil penelitian dan pengembangan menjadi produk industri, (3) terwujudnya industri-industri nasional yang mandiri dan berbasis penelitian dan pengembangan, yang mampu menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi dalam persaingan pasar global, dan (4) kerjasama antara industri dan perguruan tinggi menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa dan pihak lain yang berkepentingan.
Dalam program Rapid pihak mitra industri menjadi entry point dalam penyusunan proposal yang  diusulkan oleh kelompok dosen, dimana pihak kelompok dosen mendukung atau mensuplai teknologi  apa yang diinginkan oleh mitra industri. Kelompok dosen yang dapat mengusulkan: (1) jurusan /
departemen dan fakultas atau lembaga/pusat penelitian dalam satu perguruan tinggi atau kerjasama antar perguruan tinggi dan  (2) kerjasama perguruan tinggi dengan lembaga litbang departemen atau LPND.
Pengusul harus mempunyai track record dan road map  riset /teknologi  yang jelas terkait dengan bidang yang diajukan sesuai dengan Kerangka Acuan (kerangka acuan ada pada dokumen terpisah). Pengusul tersebut harus mengusulkan proposal Rapid melalui kelembagaan penelitian di
perguruan tinggi.

[10] Tujuan Hibah Pekerti adalah untuk memberikan wadah kepada dosen/kelompok peneliti yang relatif baru berkembang dalam kemampuan menelitinya untuk dapat memanfaatkan sarana dan keahlian, serta mengadopsi dan mencontoh budaya penelitian yang baik dari kelompok peneliti yang lebih maju di perguruan tinggi lain dalam melaksanakan penelitian yang bermutu. Program ini bertujuan pula untuk membangun kerja sama penelitian antarperguruan tinggi di Indonesia. Bidang penelitian yang dapat diusulkan dalam program Hibah Pekerti meliputi semua bidang ipteks. Kelompok peneliti yang relatif baru berkembang berperan sebagai pengusul (selanjutnya disebut Tim Peneliti Pengusul, TPP), sedangkan kelompok peneliti lebih maju di perguruan tinggi lain bertindak sebagai Tim Peneliti Mitra
(TPM).

[11] Cakupan program ialah penelitian-penelitian yang dahulu diwadahi dalam Penelitian Berbagai Bidang Ilmu (BBI) yang cakupannya meliputi 13 konsorsium pendidikan tinggi, yaitu kesehatan, hukum, sosial-humaniora, pertanian, MIPA, pendidikan, rekayasa, ekonomi, keolahragaan, agama, sastra-filsafat, psikologi, dan seni. Kajian Wanita termasuk dalam penelitian Dosen Muda dengan spesifikasi peran dan partisipasi wanita dalam berbagai sektor pembangunan dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan dan status wanita sebagai mitra sejajar pria dan pengarusutamaan jender.
Penelitian ini diperuntukkan bagi dosen yang belum bergelar doktor, dan belum berpangkat Lektor Kepala. Khusus untuk SKW diperbolehkan dengan ketentuan bukan dari bidang kajian wanita.
 
[12] Kedeputian Meneg Ristek Bidang Program Riptek, Op Cit.
[13] Kompas, Rabu, 23 Januari 2008, “cuma 1,1 Persen Dosen Mampu Meneliti”
[14] Mereka adalah pada urutan pertama terdapat Muhilal (Medis) dengan poin 2145, lalu Tjia May On (Fisika) dengan poin 1312. Sedangkan Koo Hendrik Kurniawan (Fisika) dengan poin 947. Disusul Effendy (Kimia) dengan poin 817. Juga masih ada Terry Mart (Fisika) dengan 791, serta Gunawan Indrayanto (Medis) dengan poin 708. Jumlah ilmuwan yang sedikit inilah diantaranya yang selalu meneliti dan menulis di jurnal internasional. Lihat http://wp.netsains.com
[15] Lihat Laporan Akuntabilitas Kinerja Departemen Pendidikan Nasional tahun 2007, hal 135
[16] Tim Indikator iptek, Pappiptek-LIPI, Op Cit, hal. 73
[17] Terry Mart, “Inilah Olimpiade Fisika Sebenarnya”, Kompas (1/10/2004). Tulisan ini penulis dapatkan dari http://staff.fisika.ui.ad.id/tmart/olimpiade.html . Tentang data topcite ini dapat langsung diakses ke www.slac.stanford.edu.  
[18] Terry Mart, Ibid
[19] Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta : 

Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.(Pasal 1 ayat 1). Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi:
a.  Paten
b.  Merek
c.  Desain Industri
d.  Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
e.  Rahasia Dagang
f.   Varietas Tanaman
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten: 

Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya (Pasal 1 Ayat 1). Ini diambilkan dari website Direktorat Jenderal Perlindungan HAKI.

[20] Joseph E.Stiglitz, Ekonom Amerika, pemenang nobel ekonomi 2001 dalam bukunya Making Globalization Work, melihat secara kritis pemberian paten ini dalam konteks percaturan global yang menurutnya belum adil lebih khusus lagi dalam hal Trade-Related Aspekct of Intellectual Property Rights (TRIPs). Bagi Stiglitz, harus dirancang sebuah rezim hak kekayaan intelektual yang adil dengan memperhatikan segenap stakeholder di dalamnya termasuk konsumen. Betul bahwa hukum kekayaan intelektual akan berperan besar dalam menstimulasi inovasi, tapi belum tentu sepenuhnya benar secara linear akan juga meningkatkan kinerja ekonomi. Menurut Stiglitz hingga saat ini sebetulnya belum ada jawaban yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan: apa saja yang dapat dipatenkan, seberapa luas lingkupnya, dan berapa lama seharusnya usia sebuah paten. Dengan 120 ribu permohonon/aplikasi paten setiap tahun, tidak mungkin setiap peneliti mengetahui idea apa saja yang telah dipatenkan. Stiglitzh menunjukkan bagaimana dilemma patent ini dalam kasus patent George Baldwin Selden untuk idenya atas kenderaan manual roda empat (four-Wheeled manual), patent Microsoft, patent Wright bersaudara dan Glenn H. Curtiss yang alih-alih untuk inovasi, patent mereka justru menghambat inovasi karena besar/mahalnya hak monopoli dan terjadinya kerancuan skop. Terjadilah apa yang disebut Stiglitz patent ticket, yaitu patent memperlambat penelitian lanjutan dan inovasi, akibatnya terjadilah situasi kalah-kalah (lose-lose situation). Bagi Stiglitzh tidak benar premis bahwa jika kekayaan intelektual tidak diproteksi, tidak akan ada penelitian sama sekali hal ini ditunjukkan oleh kasus Negara Swiss dan Belanda, hingga tahun 1907 dan 1912 dua Negara ini tidak memiliki hak kekayaaan intelektual, padahal mereka terkenal sangat inovatif. Lebih lengkap baca Making Globalization Work, New York:W.W. Norton&Company, Inc.,2006 yang sekarang sudah ada edisi terjemahannya oleh penerbit Mizan,2007
[21] Dari 139 negara yang menjadi members WIPO ini, Indonesia adalah salah satu anggotanya yang juga meratifikasi konvensi PCT (Patent Cooperation Treaty)
[22] lihat Website WIPO, www.wipo.int/
[23] Tim Indikator iptek, Pappiptek-LIPI, Op Cit, 27
[24] Dalam konteks perguruan tinggi untuk menjelaskan FTE atau partisipasi dosen dalam meneliti,  dianalogkan dengan ahli acrobat, yang melakukan juggling di antara beban pengajaran dan beban penelitian. Di satu sisi dituntut untuk melaksanakan tugas pengajaran, namun di sisi lain diminta juga untuk melakukan penelitian. Inilah salah satu alasan bagi beberapa orang untuk mengatakan alasan rendahnya partisipasi penelitian dari kalangan dosen. Belum ada suatu penelitian yang cukup komprehensif bagaimana dosen-dosen Indonesia membagi dan memanfaatkan waktu efektif antara mengajar dan meneliti. Isu ini sebetulnya antara benar dan salah, karena menyangkut juga soal kompetensi. Sebetulnya pengajaran dan penelitian bukanlah suatu hal yang dikotomik. Telah banyak jalan keluar yang dicarikan, misalnya Ernest Boyer dengan konsep Scholarship Reconsidered”nya yang mengatakan bahwa pengajaran dan penelitian, keduanya bisa dilakukan. lihat
[25] Transformasi itu juga dipengaruhi oleh factor profesionalitas professor yang belum diukur secara baik. Menurut Terry Mart, keprofesionalan itu dapat diukur secara sederhana, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan seorang professor di laboratorium dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan diluar sebagai konsultan, dosen, atau rektor universitas swasta. Kalau kita mengacu pada hasil analisa KMNRT tersebut diatas bahwa rendahnya trend partisipasi professor dalam memanfaatkan kesempatan meneliti jangan-jangan adalah menjadi indikator kapabilitas professor.

[26] “Indonesia Krisis Taksonom, Pihak Asing Mudah Mengambil Manfaat”, Kompas (22/8/2008). Kompas mengutip pernyataan dari Kepala LIPI, Umar A Jenie.
[27] Kedeputian Meneg Ristek Bidang Program Riptek, Op Cit. hal.48

[28] World Bank melakukan pemetaan tentang pergerakan imigrasi intelektual di seluruh dunia dan menuliskan hasilnya dalam beberapa buku diantaranya International Migration, Remittances and Brain Drain. Salah satu isinya yang cukup menyentakkan misalnya 8 dari 10 orang Haiti yang lulusan pendidikan tinginya tinggal di luar negaranya dan hampir 50 persen dari professional/ilmuwan Amerika Tengah dan Karibia melakukan imigrasi intelektual. World Bank juga mengelaborasi sisi brain waste, remittances dari Brain drain ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar