Sabtu, 01 September 2012

“Menjadi World Class University”




Pendahuluan

Times higher Education-QS World University rangkings pada 2009 (pada 2010 keduanya, THE dan QS pecah kongsi)  merilis 500 perguruan tinggi yang memiliki reputasi World Class Universities (WCU). Dari hasil rilis THE-QS tersebut, universitas Indonesia Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), masing-masing berada pada posisi 201, 250, dan 351 besar dunia. Sementara itu Unair mampu masuk ke dalam 500 ratus besar, sementara IPB, Undip, UB masuk dalam 600 ratus besar.



Sementara itu berdasarkan pemeringkatan Webometrics yang melihat ICT sebagai proxinya, dikeluarkan pada Juli 2011, memasukkan beberapa universitas Indonesia dalam 1000 universitas terbaik dunia. Universitas Indonesia berada pada urutan 562 dunia, ITB 632, UGM 817, Universitas Gunadarma 845 dan seterusnya.

Jika dilihat pada level Asia, seperti dirilis oleh QS pada 2011, perguruan tinggi Indonesia relatif kompetitif, dimana UI bertengger di posisi 40, UGM di posisi 80, UNAIR di posisi 86, ITB di posisi 98, IPB di posisi 134, UNPAD di posisi 128, dan UNDIP masuk urutan 151-160.

Dan kalau disigi lagi dalam bidang ilmu, perguruan tinggi Indonesia untuk tingkat Asia, sekali lagi mengacu kepada QS, juga relatif sangat kompetitif dan antara perguruan tinggi Indonesia sendiri dalam konteks ini juga bersaing satu dengan yang lain. sebagai ilustrasi saja, dalam bidang ilmu Natural Science misalnya ITB berada pada urutan 41, UGM urutan 45, UI urutan 53, IPB urutan 63. Dan di bidang IT & Enginering, ITB berada di urutan 26, UI berada di urutan 52,  UGM urutan 60, IPB urutan 108, IPB 108, UNDIP 111, dan ITS 65. Kalau kita lihat pada bidang ilmu life science and biomed, UGM  menempati urutan 21, UI 25, ITB 46 dan seterunya. Sementara itu di bidang Social Science UI berada di peringkat 14 di Asia, UGM 25, ITB 45 dan seterunya.

Secara keseluruhan pencapaian ini, menimbulkan suatu fajar optimisme bahwa Indonesia bisa membangun dan mengembangkan suatu perguruan tinggi yang mutu dan kualitasnya bertaraf internasional.[1]

Dibalik berita yang menggembirakan ini, pertanyaan mendasarnya adalah apa sebetulnya yang dimaksud dengan perguruan tinggi bertaraf internasional atau biasa dikenal dengan World Class University (WCU). Apakah terbatas pada defenisi, kriteria, indikator yang dibuat oleh lembaga perengkingan global saja atau lebih luas lagi. Bagaimana kita mengetahui suatu universitas telah mencapai posisi  WCU. Siapakah yang berkompeten mengidentifikasi dan menilai suatu perguruan tinggi termasuk dalam kategori WCU. Bagaimana metodologi dan kriteria penilaiannya, apakah valid dan reliable. Kenapa suatu negara perlu memiliki suatu WCU. Apa untung dan ruginya bagi suatu universitas, Negara (terutama Indonesia) dan komunitas internasional dengan adanya WCU. Berapa universitas yang diperlukan menjadi WCU dan berapa lama dan berapa biaya yang diperlukan untuk mencapai dan mempertahankan/menaikkan posisi dalam WCU.

Dan yang terpenting, bagaimana pandangan dan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap topik WCU ini.

Defenisi, Tolak Ukur dan Kriteria

Secara etimologi, seperti yang ditulis Albatch, WCU didefenisikan dengan “ranking among the foremost in the world: of an international standar of excellence” (Altbach, 2003).  

Bagaimana ditinjau dari terminologi? Henry M. Levin, Dong Wook Jeong, dan Dongshu Ou dari Columbia University, menunjukkan bahwa defenisi-defenisi yang terkait dengan WCU sebetulnya masih samar-samar dan bersifat toutologis. Akan tetapi menurut Henry dkk, variasi defenisi itu tetap berkisar seputar riset, pengajaran, kontribusi universitas terhadap masyarakat yang kita sebut dengan tridarma perguruan tinggi.

Henry dkk. Menunjukkan beberapa kompleksitas yang terkait dengan pendefenisian itu dengan mengutip berbagai contoh bagaimana WCU didefinisikan dengan mencantumkan sumber-sumbernya. Mantan rektor Chinese University of Hongkong mendefenisikan WCU: “it has faculty regularly publishing their research in the top defining journals in their respective disciplines; the graduate student body is truly international in origin; and the graduates are employable anywhere in the world”. Ruth Simmons, rektor/president Brown University mendefenisikan WCU: “a peer review system in wich standars are set by leaders of the field and those leaders are themselves challenged and judged by this process.”(Mohrman, 2005). Sementara itu Nolland Jhon mendefenisikannya “for universities, world-class standing is built on reputation and perception-often seen as subjective and uncertain- and it requires outstanding performance ini many events” (NIland, 2000).


Dari kompleksitas defenisi dan berbedanya cara mendefenisikan, lantas siapa yang berhak mendefenisikan. Pada saat ada lembaga-lembaga perengkingan dunia yang mencoba merumuskan metodologi dan criteria penilaian, sekarang ada International Association of University Presidents (IAUP) juga mendirikan a world wide quality register dibawah koordinasi UNESCO dan OECD (Eaton, 2004).

Disamping kompleksitas pendefenisian, menentukan apa yang menjadi  tolak ukur dari suatu WCU juga tidak sesederhana kriteria dan indikator yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga perengkingan global. Banyak sekali ilmuwan yang mencoba memasukkan berbagai benchmark untuk menyebut suatu universitasf sebagai WCU. Ada 12 pilar penting terkait dengan bencmark dengan segala perincian dan ramifikasinya. Dua belas pilar itu adalah excellence in research, academic freedom and an atmosphere of intellectual excitement, self-governance, adequate facilities & funding, diversity, internationalization: student, scholars, and faculty from abroad; democratic leadership, a talented undergraduate body, use of ICT, quality of teaching, connection with society/community needs, dan within institutional collaboration. [2]

Koh Aik Khoon dkk. Mencoba menggambarkan sebuah universitas yang disebut WCU (mereka menyebutnya  hallmark of World Class Universities) dimana kadang-kadang tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karakteristik ini nampak dan hanya bisa dirasakan oleh universitas yang telah masuk ke dalam world class universities. Pertama, ada world-view yang selalu forward looking, dimana sivitas akademika hanya berfikir bagaimana memajukan kampus dan almamaternya dalam ranah akademik dan intelektualitas. Karenanya mereka disibukkan mencari segala kesempatan dan peluang untuk melakukan networking/kesempatan berkolaborasi dalam penelitian dan pengajaran. Cutting-edge riset dasar ataupun terapan menjadi norm dalam world class universities. Seperti dijelaskan Derek Bok, mantan Rektor Harvard University, “Patents Offer Universities an incentive to work harder to identify valuable ideas discovered in their laboratories”. Aura positif WCU menjadikan suasana kampus menjadi learning culture. “learning is venerated and knowledge reigns supreme”. Selalu ada dorongan untuk terus menjadi lebih baik, bagaimana meningkatkan jumlah noble laureates bagi professors mereka. Akibatnya terjadi kohesivitas dalam kampus, esprit de corp bangkit karena disatukan oleh prestasi akademik, penelitian bersama dan lain sebagainya.[3]

Jamil Salmi, Tertiary Education Coordinator of The World Bank,  mengidentifikasi secara lebih jelas bahwa ada tiga karakteristik kunci dari WCU, pertama, concentration of talent; kedua, abundant of resources dan ketiga, favorable governance. Dan interaksi yang dinamis dari tiga unsur ini menurut Salmi menentukan kesuksesan dari WCU.
 
Dalam Concentration  of talent ditandai dengan terbentuknya critical mass  mahasiswa dan tenaga pengajar termasuk guru besar terbaik. Kalau prasyarat ini ada mengutip Jamil Salmi akan terjadi suatu proses snowboling effect, dimana …”where an outstanding scientist gets funded to do exciting research, attracts other faculty, then the best students- —until a critical mass is formed that has an irresistible appeal to any young person entering the field”. Salah satu kuncinya adalah otoritas yang luas bagi satuan pendidikan tinggi untuk melakukan sebuah proses seleksi yang sangat ketat bagi mahasiswa (untuk sarjana maupun pascasarjananya) dan kewenangan penuh untuk menarik peneliti dan guru besar terbaik untuk bergabung tanpa memandang latarbelakang asal usul. Dalam proses ini, kata Salmi akan susah bagi perguruan tinggi yang masih melakukan praksis proses academic in breeding dan  mobilitas internal yang sedikit dari sumber daya manusia kampus untuk mewujudkan WCU.
Selain itu, elemen kedua dari WCU menurut Jamil Salmi adalah abundant resources, diperlukan sumber daya yang besar untuk mewujudkan dan mengelola sebuah WCU. Paling tidak menurut Salmi “These universities have four main sources of financing: government budget funding for operational expenditures and research, contract research from public organizations and private firms, the financial returns generated by endowments and gifts, and tuition fees”. Menurut Salmi, di Eropa Barat, Public Funding merupakan sumber utama untuk membiayai pengajaran dan penelitian di perguruan tinggi. Sementara itu National University of Singapore yang kemudian pada 2006 menjadi perguruan tinggi swasta adalah salah satu contoh universitas yang berhasil menggalang dana abadi dalam jumlah yang fantastis mengalahkan jumlah yang dimiliki universitas di Inggris setelah Cambridge dan Oxford University. Sementara itu menurut Salmi perguruan tinggi di Amerika dan sedikit perguruan tinggi swasta di Jepang, berhasil mengggalang sumberdaya dari dua sumber yaitu dana abadi dan dana penelitian bersaing dari pemerintah yang dimenangkan oleh para dosen-dosennya. Dana yang cukup itulah dipakai untuk menarik para professor dan peneliti terbaik di seluruh dunia.
Dan last but not least, menurut Jamil Salmi, karakteristik terpenting niscaya ada dalam WCU adalah appropriate governance, ditandai dengan adanya kerangka regulasi, iklim kompetisi, otonomi manajerial dan akademik yang baik. Diperlukan pimpinan perguruan tinggi yang menginspirasi, visi strategis yang kuat, filosofi keunggulan dan kesuksesan, dan budaya refleksi yang konstan, dan organisasi yang belajar dan berubah.  Universitas-universitas di Amerika unggul bukan karena hanya faktor kekayaan sumber dayanya, tapi juga karena independensi relatifnya dari pemerintah, spirit kompetisi dst..
Sejalan dengan penjelasan Salmi, Albatch juga menjelaskan ada beberapa karakteristik penting yang harus ada pada world class universities yang sepenuhnya lagi-lagi kadang-kadang juga tidak bisa dikuantifikasi. Tapi beberapa diantaranya sudah masuk dalam catatan yang dibuat Henry dkk seperti tertulis di atas. Pertama pasti dia excellence in research. Karenanya segala prasyarat untuk mencapainya juga disedikan oleh kampus seperti top-quality professor, suasana/fasilitas kerja akademik yang memadai dan menyenangkan, tenure and appropiate salaries and benefits. Meskipun yang terakhir ini bukan segala-galanya, karena dalam dunia akademik menurut Albatch, seorang professor yang baik adalah yang melihat pekerjaannya bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai panggilan yang merupakan komitmen intelektual. Kedua,  kebebasan akademik dan atmosfir intelektual yang kondusif adalah menjadi sentral sebuah WCU. Professor dan mahasiswa bebas untuk mendapatkan ilmu dan mempublikasikan karya-karya mereka tanpa ada ketakutan sangsi oleh pihak akademik atau atoritas-otoritas di luar kampus. Ketiga, good governance mesti menjadi hal yang melekat. Keempat, fasilitas yang memadai/mendukung bagi kerja-kerja akademik adalah sesuatu yang esensial. Perpustakaan, labor, internet dan segala sumberdaya elektronik yang memadai. Professor-profesor harus memiliki kantor yang memadai. Kelima, support pendanaan yang memadai, konsisten dan jangka panjang. Dukungan pendanaan untuk mendukung keberadaan WCU akan terus meningkat seiring meningkatknya kompleksitas dan biaya riset ilmiah.

Menurut Albatch inilah yang menjadi problem dan tantangan pendidikan tinggi, karena banyak pemerintah di berbagai negara, tidak lagi berinvestasi di pendidikan tinggi. perguruan tinggi diarahkan untuk menghidupkan dirinya sendiri melalui uang kuliah, fund raising dari penjualan produk riset dan pelayanan universitas, dan berbagai modalitas pencarian dana lainnya. Berbeda dari Salmi, Albatch mengingatkan kita, bahwa di Amerika serikat saja Universitas swasta yang menempati rengking teratas dalam WCU saja masih mendapatkan subsidi pemerintah dalam bentuk research grants, loans dan grants to students, selain tentunya mereka memiliki dana abadi yang sangat fantastis. Sepertinya Indonesia masih menerapkan hal yang sama dengan tidak ada lagi pembedaan antara negeri dan swasta, mungkin persoalannya adalah volume dan jumlah bantuannya yang perlu ditingkatkan.[4]

Secara tidak langsung, Charles M. Vest (President of the Massachusetts Institute of Technology and author of Pursuing the Endless frontier) dalam esainya “World Class Universities: American Lessons, mencoba menjelaskan kenapa universitas Amerika bisa excellence dan competitive success. Ini notabene berkait dengan posisi mereka dalam WCU. Menurut Charles M. Vest:
·      The Diversity of institution –from small liberal arts colleges to large public and private universities- allows students to select the school that best matches their needs.
·      New assistant professor have freedom to choose what they teach as well as research intensity and renewal to both activities.
·      We welcome students, scholars and faculty form abroad. Their intellectual and cultural richness help difine our institutions
·      Support of frontier research in our universities has long been an important responsibility of the federal government, which award grants to researches on the basis of their merit in a competitive markeplas of ideas.
·      A tradition of philanthropy, fostered by U. S. tax law, encourages alumni and others to support our colleges and uiversities. Scholarship funds they provide allow talented students from families of modest means to atted even the most costly schools.
·      Open competition for faculty and students drive excellence.[5]




Kenapa World Class Universities

Gambaran defenisi, bencmark yang luas, dan sedikit samar-samar tidak menghambat upaya-upaya/keinginan beberapa lembaga internasional untuk membuat perengkingan World Class Universities dengan mengembangkan terus menerus metodologi dan criteria penilaian tersendiri.  Banyak sekali lembaga perengkingan global yang melakukan penelitian, penilaian dan perenkingan seperti Professional Ranking of World Class Universities; The Times Higher Education-QS World University Rankings; Sanghai Jia Tong Universities; NewsWeek dengan Top 100 Global Universitiesnya; Webometric ; G Factor; Wuhan University; Regional and National Rankings; European Union; dan lain sebagainya. Akan tetapi yang paling dirujuk adalah  THE dan QS; Shanghai Jia Tong University; Webometric. Lembaga-lembaga perengkingan global ini memiliki kriteria, indikator dan bobot serta metodologi tersendiri dalam menghasilkan penilaian.[6]

Bagi lembaga perengkingan yang menjadi permasahan bukanlah pada ranah bagaimana mendefenisikan WCU itu. seperti yang ditulis THE-QS permasalahannya  adalah  …”where to find the data will make for reliable comparisons ”. Mereka lebih berkonsentrasi bagaimana terus mengembangkan metodologi, modalitas untuk mendapatkan suatu data yang valid dan  reliable. Atau seperti yang dikatakan Shanghai Jia Tong University It would be impossible to have a comprehensive ranking of universities worldwide, because of the huge differences of universities in the large variety of countries and the technical difficulties in obtaining internationally comparable data. Our ranking is using carefully selected indicators and internationally comparable data that everyone could check.

Semua aktivitas penilaian tiga lembaga ini dilakukan secara ilmiah, yaitu dengan metodologi yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, serta bisa diakses bahkan dikritik oleh siapa saja dan selalu ada perbaikan metodologi untuk penyempurnaan. Hasil survey dan perengkingan yang dilakukan oleh tiga lembaga ini (comparing result), menurut kajian Henry M. Levin dkk.[7] dan Ben Sowter sendiri (Head of Research THE-QS) sendiri menunjukkan suatu hasil yang tidak jauh berbeda (seperti bisa dilihat dari matrix diatas) Sedikit sekali data yang menunjukkan adanya bias patriotisme dalam penilaian ini. jika dilihat, misalnya hasil studi THE-QS dari tahun ke tahun memperlihatkan suatu konsistensi hasil yang tidak banyak perubahan.[8]

Akan tetapi segala penilaian tidak jauh-jauh dari fungsi tridarma yang melekat pada perguruan tinggi, seperti yang disebutkan oleh Henry dkk diatas. Memang ada beberapa kriteria penting yang juga coba dikuantifikasi, seperti qualitas pengajaran dengan  indikator student-faculty ratio dalam THE-QS misalnya, menurut beberapa kritikan ini tidak terlalu mampu menangkap kualitas pengajaran itu, tapi secara metodologis harus diakui tidak mudah menurunkannya ke dalam kriteria dan indikator-indikator.

comparing results
THE-QS
Shang-Hai
Webometric
Harvard
Harvard
MIT
Cambridge
Stanford
Stanford
Yale
Berkeley
Harvard
Oxford
Cambridge
Penn State
Imperial
MIT
Berkeley
Princeton
Caltech
Michigan
Caltech
Columbia
Wisconsin
Chicago
Princeton
Minnesota
UCL
Chicago
Illinois
MIT
Oxford
Cornell


THE-QS komposisi penilaiannya melihat pada empat kriteria/pilar penting, yaitu kualitas riset, kualitas alumni, pandangan dunia dan kualitas perkuliahan. Masing-masing kriteria/variable ini diturunkan menjadi indikator-indikator dengan bobot penilaiannya. Kualitas riset berdasarkan penilaian komposit peer review dinilai 40 persen, rerata sitasi per dosen dengan bobot 20 persen; kualitas alumni dengan indikator survey pengguna dengan nilai 15 persen; pandangan dunia dilihat dari jumlah internasional students dan internasional staff masing-masing bernilai 5 per sen; kualitas perkuliahan dilihat dari indikator rasio mahasiswa dan staf dibobot 20 persen.

Dalam penelaian THE-QS indicator peer review dalam variable/pilar kualitas riset diberikan bobot yang cukup tinggi, yaitu 40 persen. Ini yang banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan, karena dikhawatirkan bias dan subjektif.  Bagi THE-QS, peer review adalah cara yang sangat efektif untuk mengevaluasi suatu universitas. Ini adalah sebuah tipikal penilaian, orang pintar menilai orang pintar lainnya (Sir Richard Sykes (former) Rector, Imperial College). Menurut THE-QS siapa lagi yang berhak ditanya atau dijadikan responden tentang perguruan tinggi dan bidang ilmu kalau bukan orang yang sudah malang melintang di dalam bidang ilmunya itu.[9]

Kalau kita telusuri, dalam indikator peer review ini secara nyata dalam instrumen mereka siapkan berbagai multiple factors untuk menangkis kemungkinan terjadinya bias. Misalnya dalam pertanyaan “please select up to thirty universities from our international list (ada juga domestic list) that you regard as producing the best research in the arts and humanities subject area” (ada lima area subject area yang ditanya)? Peer review hanya diminta untuk melist sebanyak 30 universitas dan tidak merengking serta disebutkan dalam instrumen “your own university will be excluded from your considerations”. Ada 5000 responden yang memberikan respon dan katakanlah untuk lima bidang area studi mereka memberikan jawaban rata-rata 20, maka ada sekitar 100 ribu data yang masuk ke THE-QS. Menurut data terakhir responden untuk peer review sudah mencapai angka  6000 ribu lebih akademisi yang ahli di bidangnya masing-masing di seluruh dunia.

Ini yang secara tajam dikritik oleh Van Ran (2005). Menurutnya  bagaimana realibitas data bagi suatu pengukuran yang subjektif dengan luasnya “cognitive distance” antara evaluating peers dan evaluated objects bisa dipercaya atau dipertanggungjawabkan. “he argues that reliability of such subjective evaluation is quite sensitive to the composition of the sample” (e.g. own institution, geographic distribution, and fields of expertise).[10]

Shanghai Jiao Tong memakai standar penilaian dengan melihat empat kriteria/variable penilaian yaitu kualitas akademik, kualitas staf, hasil riset dan ukuran institusi dengan indikator-indikatornya, yaitu lulusan yang memenangkan nobel (10 %); staf pemenang nobel (20 %); hasil riset staf dikutip dalam 21 bidang (20 %); artikel dalam nature and science (20 %); artikel dalam jurnal internasional (20 %); kinerja akademik relatif terhadap ukuran institusi (10 %).

Apakah ada patriotisme dalam perengkingan? Keinginan untuk menjaga objektivitas, serta keluhuran niat untuk melihat posisi perguruan tinggi China dengan perguruan-perguruan tinggi di dunia akan terlihat dari hasil perengkingan yang dilakukan SJT. Dalam urutan seratus besar hasil perengkingan SJT, tidak seenaknya mereka memasukkan perguruan tinggi China, karena memang belum layak masuk dalam standar penilaian ( dilihat dari indicator Alumni, Award, HiCi, N &S, SCI, dan Size) untuk posisi top hundred.

Tidak ada perguruan tinggi China yang masuk dalam top hundred yang dibuat oleh orang China sendiri, SJT, padahal dalam daftar THES-QS  2007, tiga perguruan tinggi China termasuk dalamnya, yaitu Peking University, Thsinghua University dan Fudan University, termasuk juga dua perguruan tinggi Hongkong, yaitu The Chinese University of Hongkong dan Hongkong University of Science and Tecno.

SJT mencoba menempatkan sesuai dengan urutan rankingnya, tanpa melihat asal-usul. Dalam urutan sepuluh besar perguruan tinggi seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Massachussetts Inst Tech (MIT), Columbia, dan lain-lain adalah perguruan tinggi yang memang di dalam survey lembaga manapun, termasuk THES, akan menuliskannya sebagai perguruan tinggi yang memang layak diposisinya itu.

Di dalam rangking seratus besar, secara objektif dan “lapang dada” lembaga survey China ini juga menempatkan secara terhormat enam perguruan tinggi Jepang sebagai perguruan tinggi yang layak ditiru. Ke enam perguruan tinggi Jepang itu adalah Tokyo University, Kyoto University, Osaka University, Tohoku University, Nagoya University, dan Tokyo Inst Tech. [11]

Sementara itu Webometrics melihat pemanfaatan ICT sebagai proxinya dengan indicator: ukuran website (20%); link/jumlah sambungan yang diterima dari luar (50 %); Jumlah Rich Files (15 %); Scholars: kandungan publikasi ilmiah, laporan, jumlah sitasi dsb (15%).


Consistency of Results

2007
2006
2005
2004
Harvard
Harvard
Harvard
Harvard
Cambridge
Cambridge
MIT
Berkeley
Yale
Oxford
Cambridge
MIT
Oxford
MIT
Oxford
Caltech
Imperial
Yale
Stanford
Oxford
Princeton
Stanford
Berkeley
Cambridge
Chicago
Caltech
Yale
Stanford
Caltech
Berkeley
Caltech
Yale
UCL
Imperial
Princeton
Princeton
MIT
Princeton
Ecole Polytechnique
ETH Zurich

Sumber dari Makalah Ben Sowter, 10 Mei 2008 yang dipresentasikan pada acara Video Tele conference Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.


Biaya World Class University

Sebuah ilustrasi menarik dituliskan oleh Albatch: “Jhon D. Rockefeller once asked Charles W. Elliot, president of Harvard University for almost forty years in the late nineteenth century, what it would take to create the equivalent of a world-class university. Eliot responded that it would require $50 million and two hundred years. He was wrong. At the beginning of the twentieth century, the university of Chicago became a world-class university in two decades for slightly more than $50 million-donated by rockefeler himself. The price tag for such an endeavor has ballooned since then, not only because of… now it might take more then $500 million along with clever leadership and much good luck”[12]

Ilustrasi in menceritakan betapa tidak murahnya ongkos untuk menjadi dan mempertahankan WCU. Pengakuan Charles M. Vest dalam World Class Universities: American Lessons yang menjelaskan kenapa perguruan tinggi Amerika seperti universitas yang dipimpinnya (MIT) excellence dan competitive success, salah satunya adalah support of frontier research dari pemerintah/atau bantuan dana untuk penelitian dan berkembangnya tradisi philanthropy yang salah satunya dalam bentuk dana abadi dan beasiswa-beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu tapi pintar.[13]
 
Umumnya, kalau kita lihat postur pembiayaan universitas kelas dunia, mereka memiliki kesiapan/kecukupan dana dan kecanggihan fund raising. Katakanlah sebagai contoh kita ambil University of California Los Angeles, Arizona State University, University of London, Oklahoma State University, Yale University dan Harvard University. Pendapatan terbesar mereka disumbangkan dari dana abadi dan kontrak penelitian, penjualan layananan seperti seminar, kursus, kesehatan, atletik, publikasi, asrama mahasiswa, penyewaan rumah, jasa boga, dan sebagainya. Maksimal hanya 23-25 persen saja dari seluruh pendapatan itu berasal dari pendapatan uang kuliah.

Misalnya kita lihat sebuah data tahun 2001 yang relatif lengkap menjelaskan bagaimana nilai endowment fund suatu perguruan tinggi dibandingkan dengan anggaran tahunan mereka, bagaimana presentase pendapatan dari endowment dalam totalitas anggaran dan bagaimana rasio endowment fund dengan anggaran tahunan.

Universitas
Nilai endowment
Anggaran tahunan
%Pendapatan Endow. Dalam anggaran
Rasio Endow dan Anggaran Tahunan
Harvard University
$ 17.951
$ 2.062
28 %
8,7
Yale University
10.700
  1.350
25 %
7,9
University of Texas system
9.364
 6.968
Ttd
1,3
Princetonn University
8.359
699
22%
12,0
Stanford University
8.250
1.970
22%
4,2
MIT
6.135
1.380
Ttd

University of California
4.703
9.480
2%
4,4
Emory University
4.316
ttd
Ttd
Ttd
Columbia University
4.293
1.418
11%
3,0
Texas A&M university System and Foundation
4.031
1.972
2%
2,0
Washington university at St louis
3.952
1.236
11%
2,3
University of Chicago
3.516
1.522
11%
2,3
University of Michigan
3.614
1.066
2%
3,4
University of Pennsylvania
3.382
1.428
8%
2,4
Northwestern University
3.256
1.381
8%
2,4
Sumber: Washington University Finantial Reports dan Website masing-masing. Ini diambilkan dari  Manajemen Perguruan Tinggi Modern, R. Eko Indrajit dan R. Djokopranoto.[14]

Endowment fund ini setiap tahun terus bertambah, karena kecanggihan manajemen pengelolaan dana abadi dalam menginvestasikannya sehingga berpengaruh signifikan bagi pendapatan universitas secara total. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh National Association of College and University Business Officers Endowment Study pada 30 Juni 2006 posisi nilai pasar asset endowment fund beberapa universitas World Class yang disebutkan diatas bertambah banyak. Harvard university memiliki dana abadi US$28, 915, 706.000  (kurang lebih US$ 29 miliar), Yale University pada posisi kedua sebanyak US $ 18.030.600.000. Stanford University punya dana abadi US$14.084.676.[15] 

Berdasarkan data 2005, waktu itu dana abadi Harvard University  berjumlah US$25,9 Miliar atau setara dengan Rp.234 Triliun dengan asumsi kurs 9000 per US dolar, hasil investasinya mencapai 19,2 % per tahun. Yale University dengan dana abadi US$ 12 Miliar hasil investasinya 19,4 % per tahunnya.   Bandingkan dengan universitas Indonesia yang sudah masuk ke dalam World Class Universities misalnya ITB, hingga 2006 baru memiliki dana abadi sebanyak 10 miliar tentu perlu kerja keras. Jangan dibandingkan dengan universitas besar yang disebutkan di atas, Nanyang University (hasil THE-QS 2008 masuk seratus besar) sudah memiliki dana abadi sebesar S $ 900 juta.[16]

Dengan dana abadi raksasa ini universitas-universitas bertaraf internasional menghidupkan dan menfasilitasi sivitas akademika mereka untuk melakukan penelitian, inovasi dan invensi, menghasilkan patent, buku, publikasi internasional. Kalau kita perhatikan profil pembiayaan universitas pada sisi pengeluaran, maka pengeluaran terbesar (tentu diluar dana belajar mengajar, termasuk gaji) dialokasikan untuk riset (13-24 persen).

Tidak salah kiranya apa yang dikatakan Charles M. Vest, the former President of the Massachusetts Institute of Tecnhology “ the factors I believe contribute the most to the excellence and competitive success of U.S. higher Education include:…a tradition of philanthropy, fostered by U.S. tax law, encourages alumni and others to support our colleges and universities…”

Produk yang dihasilkan adalah produk yang bermutu dan bernilai tinggi. Sehingga hasil karya Universitas adalah karya yang layak jual dan merupakan pendapatan penting yang nominal kontribusinya terhadap pendapatan total melebihi return invest dari dana abadi. Kontrak penelitian dan ditambah penjualan layanan universitas, ditambah sumbangan pemerintah (sumbangan pemerintah pusat dan federal tidak berkurang), di mana angka total mencapai 47 persen dari seluruh pendapatan. Beberapa universitas memperoleh pendapatan terbesarnya dari penjualan layanan, seperti UCLA mencapi 43 persen dan University of London mencapai 61 persen dari total pendapatan.  [17]



Viabilitas World Class University 

Rasanya relevan kita kutipkan, apa yang dituliskan Philip G. Altbach seorang professor pendidikan di Boston College bagaimana menyikapi wacana WCU ini. Beliau menuliskan dengan mengingatkan bagaimana kesimpulan sosiolog Amerika David Risman berdasarkan pada observasinya terhadap Universitas-univesitas di Amerika pada tahun 1950-an yang ketika itu terjebak pada orientasi semuanya ingin menjadi seperti Harvard, Berkeley dan beberapa universitas top lainnya, sepertinya kembali terjadi pada Universitas-universitas yang ada di dunia. Secara arif Albatch mengingatkan kita untuk menilai secara hati-hati apa sebetulnya kebutuhan kita, kondisi sumber daya, dan kepentingan jangka panjang

Masih menurut Altbach, sebuah Negara mesti mengedepankan perspektif yang realistis dan objektif. Banyak Negara dengan banyak universitasnya, tapi hanya beberapa saja yang memang dikondisikan menjadi WCU. Kalau kita, Indonesia pernah mencanangkan promising universities dengan jumlah yang cukup banyak, rasanya mengikuti Altbach tidak semuanya harus didorong menjadi WCU.

Tidak semua Universitas terbaik, WCU, adalah sebuah universitas dengan nilai terbaik di semua fakultas, prodinya. Misalnya Harvard universitas nomor satu dunia, akan tetapi dia bukanlah sebuah universitas yang juga berjaya/paling hebat dibidang engineering misalnya. Bagi Altbach lebih baik, sebuah universitas yang dipromosikan menjadikan WCU fokus pada kebutuhan yang relevan bagi kebutuhan nasional dan regional ekonomi dan sosialnya. Menurut Altbatch, Negara Malaysia sudah berada jalan yang benar dengan fokus pada disiplin informasi dan teknologi persawitan yang sangat penting bagi ekonomi lokalnya.

Seperti kebanyakan Negara tetangga di Asia, umumnya universitas mereka yang masuk WCU adalah universitas negeri yang dibantu oleh Negara, maka Indonesia untuk kontek mempertahankan dan menaikkan peringkat memberikan dana stimulasi. Tidak kalah pentingnya adalah memberikan otonomi dan kebebasan akademik di perguruan tinggi adalah tampaknya stimulator lain yang mendorong kampus untuk terus mengembangkan diri mereka dalam ranah akademik ini.

Melanjutkan Albatch, Prof. Jamil Salmi menawarkan tiga alternatif jalan, dengan segala tantangan dan konsekwensi biayanya, yang bisa dilakukan menuju WCU yaitu pertama, upgrading existing institution; kedua, merging existing institution; ketiga, creation new institution.  Secara ringkas segala untung dan rugi dari masing-masing jalan dapat dilihat dari table yang berikut ini:

      approach

condition

Upgrading Existing
Institutions
Merging Existing
Institutions
Creation New
Institutions
Ability to Attract
Talent
Difficult to renew
staff and change the
brand to attract top
students
Opportunity to change
the leadership and to
attract new staff.
Existing staff may
resist
Opportunity to select
the best (staff and
students).
Difficulties in
recruiting top
students to
“unknown”
institution. Need to
build up research and
teaching traditions.
Costs
Less expensive
Neutral
More expensive
governance
Difficult to change
mode of operation
within same
regulatory framework
More likely to work
with different legal
status than existing
institutions
Opportunity to create
appropriate
framework
Institutional
Culture
Difficult to transform
from within
May be difficult to
create a new identity
out of distinct
institutional cultures
Opportunity to create
culture of excellence
Change
Management
Major consultation
and communication
campaign with all
stakeholders
Normative” approach
to educate all
stakeholders about
expected norms and
institutional culture
“Environmental
adaptive” approach
to communicate and
socially market the
new institution

Terlepas dari jalan alternative yang diberikan oleh berbagai pakar diatas, tidak sedikit perguruant  tinggi di dunia yang menemukan alasan kuat untuk tidak ikut-ikutan dengan upaya meretas jalan menuju WCU. Misalnya Christine King, vice-chancelor of Staffordshire university di Inggris, menyadarkan kita bahwa WCU itu sebetulnya lebih banyak menekankan pada fungsi riset dan sedikit menafikan banyak universitas yang mencoba fokus pada students success and enterprise, misalnya. Baginya “we’re not based nobel prizes, but student success and skills as well as rebuilding and regenerating communities. That’s the lifeblood of what we do and you need more of that than you need nobel prizes-winners”.[18]


Sikap dan Kebijakan 

Apa yang dikatakan Albatch dan Christine King mengingatkan bahwa WCU hanya sekedar proxi bukan prioritas utama. WCU menjadi benchmark dalam melihat penyelenggaran pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Pemerintah Indonesia mendorong agar semua satuan pendidikan, termasuk perguruan tinggi agar memenuhi level standar minimal pendidikan nasional. Bagi perguruan tinggi yang berhasil melewati level nasional dan kompatibel dengan standar internaional seperti WCU ini didorong untuk terus maju menjadi WCU. Untuk Indonesia tidak banyak universitas yang melewati standar nasional pendidikan dan masuk ke dalam top universitas dunia.

Dalam benchmarking kata kuncinya adalah pengukuran dan pembandingan, sistematis dan terus menerus, terhadap unggulan bisnis, diiringi dengan pengambilan langkah perbaikan kinerja.[19] Kedua, memacu perguruan tinggi (baca sivitas academika kita) untuk selalu produktif melahirkan publikasi, invensi, dan patent yang diakui secara internasional. Karena performa WCU hanya bisa dipertahankan dengan melakukan produktifitas penelitian, menghasilkan publikasi-publikasi di Jurnal Internasional dan prestasi-prestasi internasional lainnya. Indonesia tidak akan hanya melihat posisinya dengan Negara-negara maju, tapi juga bergambar juga dari Negara di Regional ASIA, ASEAN dan Negara dunia ketiga lainnya. Keempat, akan menjadi ukuran pencapaian pembangunan pendidikan Indonesia, terutama pendidikan tinggi. 

Semangat dasar ini yang ditunjukkan Shanghai Jio Tong University (SJT) yang bisa dibaca dalam publikasi mereka. Di dalamnya dikatakan oleh SJT bahwa our original purpose of doing the rangking was to find out the gap between Chinese universities and world-class universities, particularly in terms of academic or research performance. It has been done for our academic interest without any outside support. 

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terutama kebijakan pada 2008-2010, seperti nampak dari alokasi dana pendidikan tinggi, baik yang sudah WCU maupun beberapa yang sangat berpotensi besar menjadi WCU, dalam konteks benchmarking WCU ini sedikitpun tidak mengurangi komitmen mereka untuk terus menfasilitasi. Tidak ada universitas yang WCU di dunia ini yang tidak dibantu oleh negaranya, kendatipun dia adalah universitas swasta kaya dengan nilai TRIP endowment yang tidak terbatas sekalipun.

Disamping itu, World Class Universities, seperti dijelaskan Charles M. Vest mantan President of the Massachusetts Institute of Technology, secara positif harus dilihat sebagai peluang untuk bekerjasama bukan berkompetisi. Dia menyebutnya dengan istilah meta-university, di mana dengan berkembangnya teknologi memungkinkan terjadinya kolaborasi global dosen dan peneliti secara cepat akan menjadikan perguruan tinggi lebih maju.[20]

Bagi universitas Indonesia yang berusaha menuju WCU, tentu pemerintah tidak bisa menghalang-halangi. Karena dalam beberapa kasus di Universitas Amerika seperti dijelaskan dengan baik oleh Frank Hsia-San Shu dan seperti University of California (UC) dan Indian institute of Technology bahwa menjadi WCU bisa dilakukan dalam waktu yang tidak relatif lama dan dengan tidak hanya mengandalkan atau menjadikan pembiayaan sebagai halangan/faktor terbesar. Menurutnya transformasi UC menjadi WCU sebetulnya didukung oleh master plan dan kepemimpinan rektor dan kerjasama kolega yang sangat kuat. Walaupun bukan universitas swasta yang sangat kaya seperi Harvard, Yale, dan Standford, UC dengan hampir semua universitasnya masuk dalam jajaran elit univiersitas top dunia. Indian Institute of Technology, walaupun berdiri pada tahun 1960, karena focus pada research-intensive model, mereka mampu menunjukkan bahwa mereka bisa tumbuh dengan sangat cepat menjadi WCU[21].

Di samping itu, bagi universitas yang telah menjadi WCU dan universitas sangat berpotensi menjadi WCU, tidak salah kiranya mengembangkan philanthropy untuk mendukung pencapaian dan pengukuhan universitasnya dalam konteks WCU. Ketika dana abadi itu ditempatkan memerlukan kemampuan manajemen portofolio yang sangat canggih. Hal ini telah dilakukan oleh UI, UGM dan ITB yang bisa dijadikan contoh bagi Universitas-Universitas lain yang bermimpi ingin menjadi WCU.




[1] Lihat WWW.topuniversities.co. Perlu juga kita ketahui dalam release data terbaru tersebut, THES menobatkan National University of Singapore (NUS) di urutan ke-30 dunia sekaligus sebagai yang terbaik di Asia Tenggara. Chulalongkorn University dari Thailand untuk pertama kali masuk daftar 200 besar dengan menempati posisi 166 dunia bersama dengan Universitet Gottingen, Jerman
[2] Lihat What Is A World Class University?, Henry M. Levin, Dong Wook Jeong, dan Dongshu Ou, 2006. Makalah disampaikan pada Conference of the Comparative and International Education Society. Henry M. Levin merupakan the William Heard Kilpatrick Professor of Economics and Education, Teachers College, Columbia University. Dong Wook Jeong and Dongshu adalah Research Assistants at Teachers College.


[3] lihat tulisan Koh Aik Khon dkk, The Hallmark of World Class Universities, tt, tt.
[4] Philip. G. Altbach,  Cost and Benefits of World Class Universities, 2004. Copy right tulisan ini menjadi milik American Association of University Professors Jan/Feb. Altbach adalah Professor of Higher Education and Director of the Center for International Higher Education at Boston College.
[5] Charles M. Vest, World Class Universities: American Lessons,  Center for International Higher Education, Boston College. 2004. Boston College menerbitkan artikel ini setelah mendapat izin dari THS-QS. Charles M. Vest adalah President of the Massachusetts Institute of Technology and Author of Pursuing the Endless Prontier: Essays on MIT and the Role of Research Universities (MIT Prss).
[6] Publikasi pertama THE-QS tentang World University Rangking adalah pada 2004 yang mencoba melist 200 universitas terbaik di dunia. Ini adalah sebuah kolaborasi antara THE dan QS. THE sendiri sudah berjalan semenjak 1971. Majalah mingguan ini didistrubusikan kepada para akademisi di UK dan dunia internasional terutama yang berasosiasi dengan The Times. Tapi saying dua kolaborasi ini berakhir pada 2010. Sementara itu Shanghai Jiatong University yang berbasis di China mendirikan World-Wide Ranking of Universities mulai pada 2003. Pada tahun 2005 Shanghai Jiatong University memasukkan  artikel Art and Humanities index dalam criteria penilaian menjawab berbagai kritikan. Webometric didirikan atas inisiatif Cybermetrics lab, sebuah kelompok penelitian yang dimiliki Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC), sebuah lembaga penelitian terbesar di Spanyol.
[7] Henry M. Levin dkk. Op Cit
[8]Ben Sowter, World University Rankings, Methodology and Indonesia’s Performance, sebuah makalah yang dipresentasikan pada 10 Mei 2008 di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
[9]THE-QS menjelaskan bagaimana proses rekrutmen dari respondent peer review. 1) Previous respondents are invited to respond again - to update their opinions based on anything they may have learned since their prior response. 2) We select 180,000 addresses from the World Scientific database based on balance of field prepresentaion and geography. Previous respondents to the survey are excluded. 3) We select slightly over 13,000 addresses from the International Book Information Service (IBIS) operated by Mardev (a division of Elsevier). These supplement the shortfalls of the World Scientific database - particularly in the Arts & Humanities. Again, prior respondents are excluded. Selanjutnya silahkan kunjungi www.topuniversities.
[10] Kritikan Van Ran kami kutipan dari Henry M. Levin. Lebih lengkap dapat dilihat presentasi beliau (Van Ran), The Challenges of University Ranking, How Can We Identify the best Universities In The World? Leiden University, February 16, 2006.
[11] Lihat websitenya Shang Hai Jiatong University.
[12] Philip. G. Altbach, Op Cit.
[13] Charles M. Vest, Op Cit.
[14] R. Eko Indrajit dan R. Djokopranoto, Manajemen Perguruan Tinggi Modern, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2006.
[15] Lihat http://www.nacubo.org/pressroom. Silahkan lihat website masing-masing universitas terutam dalam Annual Report mereka.
[16] lihat http://www.cintaitb.ac.id/index. Di dalamnya ITB membahas bagaimana perbandingan return invest dari dana abadi/dana lestari dari berbagai Negara dibandingkan dengan ITB.
[17] R. Eco Indrajit, Op. Cit.
[18] Cristine King, World Class? Dalam Guardian.co.UK/2003/Nov/18/highereducation.worldclass10
[19] Lihat definisi Benchmarking yang dibuat oleh Bencmarking Clearing House: “benchmarking is a systematic and continuous measurement process, a process of continuously measuring and comparing an organization business processes against business process leaders anywhere in the world to gain information which will help the organization take action to improve its performance”
[20] M. Vest. Op Cit
[21] Frank Hsia-San Shu, Building World-Class Reseach University, tt. Tt. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar